Tabungan Ibu
Punya ide untuk Indonesia?
Karena saya seorang dokter dan peduli sama kesehatan ibu (juga anak-anak) berikut solusi yang saya tawarkan untuk Indonesia.
Supaya mereka yang berasal dari kalangan ekonomi lemah juga punya akses ke layanan kesehatan!
Silakan lihat di link berikut:
http://www2.yourhealthandwellbeing.asia/indonesia/…tabungan-ibu-solusi-alternatif-untuk-pembiayaan-layanan-kesehatan
Public health itu seksi !
” Abis master ngapain ? Bakal praktek lagi ? “
Itu dia pertanyaan orang-orang yang pengen tau gimana kelanjutannya setelah saya menyelesaikan program master selama 1 tahun.
Dengan latar belakang pendidikan dokter, tentu aja saya bisa kembali lagi ke negara asal (Indonesia) dan kembali praktek atau melanjutkan spesialisasi.
Tapi untuk saya, buat apa?
Kalau memang ingin terjun di bidang klinis, gak akan kemaren ‘ikut-ikutan’ sekolah master. Keukeuh lagi apply bidang yang paling banyak permasalahannya di Indonesia, yaitu health systems, management and policies = sistem, manajemen dan kebijakan kesehatan.
Menurut pendapat saya, sudah banyak dokter umum ataupun spesialis yang bertebaran di Indonesia. Istilah Sunda-nya mah ‘pabalatak‘.
Sayangnya proporsi tenaga kesehatan ini tidak merata, kebanyakan dokter dan tenaga kesehatan tentu aja lebih suka berdiam di kota-kota besar daripada di pedalaman atau kampung-kampung.
Kenapa? Jawabannya mudah. Karena dimana ada duit, disitu ada prakter dokter.
Mungkin itu jawaban yang terlalu vulgar.
Tapi biarlah, kan ini blog punya saya sendiri
Okeh, penjelasannya adalah : Karena sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia didominasi oleh sistem out-of-pocket.
Dalam sistem out-of-pocket (OOP) ini artinya biaya yang keluar untuk berobat kalo ke dokter, ditanggung oleh pasiennya sendiri.
Dampaknya sudah jelas, mereka yang punya duit akan cenderung bisa memilih dokter sendiri, memilih mau berobat dimana (ke Puskesmas, praktek dokter pribadi, atau langsung ke Rumah Sakit), juga bisa menentukan mau beli obat yang mahal atau menentukan mau periksa laboratorium dkk.
Pada intinya, kalo punya duit (dalam sistem OOP) artinya kita bisa mendapat pelayanan apapun.
Sebaliknya, kalau tidak punya uang?
Mereka yang tidak punya uang, atau yang penghasilannya terbatas (bahasa halusnya) harus memilih jalur alternatif. Yaitu berobat ke tempat yang lebih murah (biasanya dipilih Puskesmas), berobat ke dukun dulu (karena ke dokter mahal), atau mencoba mengobati sendiri. Inilah juga sebabnya kenapa banyak orang miskin suka telat berobat ke dokter (dan kalau sudah nyampe dokter biasanya kena marah lagi: ‘Pak, koq sakitnya nunggu parah gini baru ke dokter…’)
Itulah dia yang terjadi di banyak tempat di Indonesia.
Itulah juga sebabnya kenapa walaupun banyak dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia tambah banyak, tapi tidak mencerminkan bahwa rakyatnya akan semakin sehat.
Karena banyak tenaga kesehatan tidak menjamin rakyatnya sehat jika,
SISTEM KESEHATAN NYA tidak dirubah,
juga MANAJEMEN kesehatannya tidak berubah,
ditunjang oleh KEBIJAKAN kesehatan yang menopang kedua perubahan tersebut.
Mungkin untuk sebagian orang ini teori yang terlalu sulit untuk dimengerti.
Tapi, teruslah membaca, akan saya coba jelaskan konsep ini pada Anda.
Pertama-tama, kita ambil sistem kesehatan di negara maju.
Siapa yang disebut negara maju? Bukan hanya negara yang pendapatan perkapitanya besar, tapi juga negara yang indikator kesehatannya bagus.
Artinya umur harapan hidupnya tinggi, juga angka kematian ibu dan anak yang rendah. Ini semua mencerminkan bahwa negara itu makmur, sehingga kelompok populasi rentan (orangtua, wanita, anak-anak) bisa menikmati pertumbuhan ekonomi negaranya.
Saya ambil contoh dua negara dimana saya pernah merasakan tinggal dan juga nyicip sistem kesehatannya, yaitu Belanda dan Denmark.
Di kedua negara ini, karena sistem politiknya cenderung ke arah sosialis maka sistem kesehatan yang digunakan juga didominasi oleh Social Health Insurance atau asuransi kesehatan sosial.
Pada sistem ini, semua orang yang sudah mempunyai penghasilan (kelompok usia produktif) diwajibkan membayar premi asuransi kesehatan. Biasanya langsung dipotong dari pendapatan. Buat mereka, haram hukumnya gak punya asuransi kesehatan. Karena, biaya ke dokter di negara maju ini sangat mahal.
Jadi, semua orang diwajibkan untuk punya asuransi kesehatan.
Apakah ada orang-orang yang dibebaskan dari premi? Tentu saja ada.
Kelompok veteran (pensiunan), anak-anak, orang yang gak punya kerja, orang yang tidak mampu dst, dibebaskan dari premi tapi masih dijamin oleh asuransi kesehatan.
Prinsip dari Social Health Insurance ini adalah: ‘Mereka yang mampu bayar (kelompok usia produktif), menanggung beban kesehatan mereka yang tidak mampu bayar.’
Secara logika, ini adalah sistem kesehatan yang adil. Ya kan?
Bagaimana kesan saya selagi jadi pasien di negara tersebut?
Untungnya, selama di Belanda (3 bulan lebih) saya jarang sakit. Atau paling sakit ringan yang gak perlu ke dokter.
Tapi waktu di Denmark, pernah saya lumayan sakit (sakit koq bisa lumayan) sehingga merasa perlu ke dokter.
Caranya: di Denmark semua orang punya kartu tanda pengenal (semacam KTP) yang bisa dipakai untuk kartu berobat ke dokter. Kartu ini multifungsi, juga bisa dipake untuk buka tabungan di bank, atau pinjam buku ke perpustakaan, atau buka nomor kartu SIM telefon. Jadi nomor identitas yang ada di kartu ini identik dengan nama kita sendiri. Pada saat kita nelefon dokter untuk bikin janji – nomor identitas inilah yang harus disebutkan.
Owhya, dokter yang bisa mengobati juga hanya dokter tertentu yang tinggalnya dalam wilayah tempat tinggal kita. Dan harus didaftar sebelumnya. Jadi seperti dokter keluarga ASKES lah kurang lebih.
Selanjutnya, saya tinggal datang ke tempat praktek dokter tsb (dekat rumah, jalan kaki hanya 7 menit) sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Lalu menyebutkan nama saya dan nomor identitas. Juga menyertakan kartu saya tentunya. Nunggu sekitar 10 menit karena masih ada 1 pasien anak. Gak berapa lama dipanggil oleh dokternya.
Asik juga karena selain tempat praktek deket dan gak usah tunggu lama, dokternya tertarik untuk ngobrol-ngobrol. Juga dia menyarankan pemeriksaan penunjang dan tes darah. Dibuat lembar referal untuk tes darah ke laboratorium.
Semua konsultasi dan pemeriksaan penunjang tersebut GRATIS, alias gak bayar.
Kenapa bisa, karena sistem kesehatan sosialis itulah. Dipotongnya tentu dari pajak.
Pajaknya juga gak tanggung-tanggung. Sistem pajak yang dianut adalah Progresif (sama seperti di Indonesia, hanya di Denmark pengelolaannya jelas dan tanpa korupsi ![]()
Tapi tentu aja walaupun pajak yang dipotong bisa sebesar 40% dari pendapatan, tapi penduduk Denmark dan Belanda lebih bisa merasakan ‘hasil’ dari pajak daripada di Indonesia. Seengga-engga, saya pendatang sementara, sudah bisa merasakan hasil pajak mereka, yaitu fasilitas dan layanan publik yang nyaman termasuk layanan kesehatan.
Itulah sekilas yang saya pelajari saat menempuh program master, dalam bidang international health (yang juga termasuk bidang public health).
Dan sampai saat ini saya yakin, Indonesia sebenernya gak (cuman) butuh lebih banyak dokter atau tenaga kesehatan saja, tapi juga praktisi di bidang ilmu kesehatan masyarakat.
Lihat saja di sekeliling kita, masih banyak pekerjaan rumah yang bisa ditangani pakar bidang ilmu kesehatan masyarakat/ public health : menangani sampah/ waste management, promosi gaya hidup sehat (kampanye anti rokok, pola makan sehat, anti junk food), penyediaan trotoar di jalan (supaya orang yang jalan gak ketabrak motor/ mobil!).
Bisa dibilang itu semua bukan pekerjaan yang sepele, bahkan kalau liat kondisi Indonesia sekarang, ini adalah sebuah tantangan bagi praktisi ilmu kesehatan masyarakat.
Buat saya, pekerjaan itu menarik kalau ada tantangannya. Dan itulah sebabnya public health sebenarnya ilmu yang sangat menarik dan applicable!
Juga saya harapkan akan lebih banyak orang (baik dengan latar belakang medis atau bukan) yang lebih mendalami bidang ini.
Seengga-engganya kalau Indonesia mau semakin maju dan sehat, harus lebih banyak praktisi di bidang ini. Bukan cuman dokter doang yang dibutuhkan.
Lagian, dokter juga manusia . . .
Calculate your HIV risk !
Ingin tau seberapa besar resiko kita terkena HIV ?
Resiko setiap orang terkena HIV berbeda, perempuan lebih rentan untuk terkena dibandingkan laki-laki karena biasanya perempuan menjadi pihak yang receptive (menerima).
Lelaki yang melakukan seks yang sifatnya receptive (anal sex, blow job) juga mempunyai resiko lebih besar dibanding lelaki yang melakukan seks bersifat insertif (memasukkan).
Jumlah banyaknya pasangan atau mempunyai pasangan seks yang sering melakukan hubungan seks berganti-ganti partner (terutama tanpa pengaman/kondom) tentu saja menambah resiko.
Tempat dimana kita tinggal (negara) juga menentukan prevalensi (banyaknya angka kejadian) kasus HIV, yang bisa menentukan besar kecilnya resiko terkena HIV.
Buat yang penasaran . . . . . . . . silakan mencoba !
” Semua dapet untung kalau sehat”
Lokakarya Nasional HIV dan AIDS
Tanggal 7 Desember 2009 (hari pertama) : Intervensi Struktural
dr. Nafsiah Mboi (Sekretaris KPA Nasional)
- Perubahan situasi epidemiologi HIV di Indonesia : dimulai dari prevalensi HIV yang terkonsentrasi dalam high risk population ke semua kelompok populasi (termasuk diantara ibu rumah tangga dari kalangan low risk women, dan anak-anak).
- Perubahan transmisi penularan HIV : pemakaian alat/jarum suntik tidak steril (42%) dan hubungan seksual beresiko (heterseksual : 48% , homoseksual 3,8%) dengan catatan, tren penularan meningkat melalui hubungan seksual antara pelanggan PS dan pasangan tetapnya (istri).
- Intervensi masih belum efektif, dan karena terfokus pada kelompok tinggi resiko, maka banyak yang tidak tercakup dalam program penanggulangan HIV.
Contoh : Penggunaan kondom yg rendah di kalangan pelanggan menyebabkan penularan meluas ke kalangan pasangan seksual (istri, pacar).
- Pendekatan kepada kelompok resiko tingi (PSK,IDUs) masih sporadis dan eksklusif : tidak memberdayakan ODHA, dan tidak melibatkan masyarakat.
Yang dibutuhkan adalah : kemandirian pada komunitas.
➥ Perlunya analisis struktural intern komunitas : kenapa HIV bisa ada dalam suatu populasi dan penanggulangannya juga melihat latar belakang serta sesuai/applicable dengan situasi yang ada.
- Ketimpangan gender dalam masyarakat : Kenapa ada pelanggan, kenapa ada PSK ,ini sangat terkait dengan perspektif gender di masyarakat.
Buktinya adalah 7-9 juta pria masih menganggap wanita adalah barang yang bisa dibeli, dan tidak mau berperan dalam mencegah penularan ini (dengan memakai kondom).
DImana peranan agama dalam hal ini : apakah mengkondisikan wanita sebagai warga negara kelas 2 (boleh poligami), atau menaikkan harkat dan derajat wanita ?
RAN 2010-2014
Intervensi struktural, yang artinya
- Menciptakan lingkungan yang kondusif lewat :
kebijakan yang mendukung (supportive policies) , memberdayakan komunitas, pemakaian kondom , penghapusan stigma & diskriminasi.
Pencegahan HIV lewat jalur hubungan seksual beresiko
Pemakaian kondom 100% sudah dianggap tidak berhasil (respons masyarakat jadi paranoid, menganggap kondom = setuju seks bebas, identik dengan kelompok resiko tertentu)
Sekarang fokus pada : cegah infeksi baru.
Dengan perubahan perilaku, how ?
- mencegah orang menjadi PSK
- mencegah orang beli seks
- jika beli seks, mau pake kondom
Manajemen IMS
Ketersediaan supply (kondom, ART)
Perubahan sosial, ekonomi, politik
Pendekatan holistik, komprehensif, sensitif kultural
Semua pihak harus menyadari dimana peran-nya, dan bagaimana meng-efektifkan peran tersebut.
Contoh : LSM bisa empowering ke populasi kunci (bikin mereka jadi mandiri, bertanggung jawab terhadap kesehatannya sendiri, dan sadar bahwa populasi kunci bisa mengubah epidemi dengan mengubah perilaku mereka).
Mucikari, tukang ojek, dan orang yang terkait bisnis jual beli seks harus sadar mereka akan kehilangan mata pencaharian kalau PSK-nya sakit.
Depnaker bisa kehilangan angkatan kerja kalau banyak orang usia produktif terkena AIDS.
Intinya : “ Semua orang akan dapat untung kalau sehat“.
Penghapusan prostitusi, mengurai masalah penularan penyakit menular seksual
Penghapusan prostitusi bukan jawabannya !
Saat ini prostitusi/pelacuran atau transaksi komersial seks masih dikaitkan dengan penyebaran berbagai penyakit/infeksi menular kelamin, termasuk juga untuk penularan HIV.
Maka tindakan pemerintah untuk menghapuskan prostitusi dinilai tepat.
Benarkan demikian ?
Jawabannya adalah : TIDAK !
Prostitusi sudah terjadi sejak jaman dahulu kala, dan akan selalu ada dalam peradaban manusia.
Munafik lah orang-orang (pemerintah) yang menyangka dengan menghapuskan prostitusi maka akan menyumbang kebaikan pada lingkungan sekitar.
Perlu diketahui, kenapa ada yang namanya prostitusi.
Pertama, manusia adalah makhluk hidup yang membutuhkan seks.
Ini benar adanya, oleh karena itu agama dan kepercayaan membuat suatu institusi yang disebut pernikahan. Ini yang dianggap sah (oleh norma-norma sosial di timur pada umumnya).
Tetapi, bagaimana dengan mereka yang belum menikah tetapi sudah memasuki usia pubertas?
Penelitian dan studi lapangan menyebutkan ada anak-anak muda kita (ya, di Indonesia, bukan di belahan dunia yang lain) memulai hubungan seks pertama dalam usia yang sangat dini. Antara usia SMP atau sekitar 14-15 tahun.
Pada masa ini tentulah belum ada (atau jarang) orangtua atau institusi sosial yang mengizinkan mereka untuk menikah dengan alasan ingin melampiaskan nafsu seksualnya.
Belum lagi pendidikan di sekolah dan di rumah yang tidak pernah (mengganggap tabu) membahas soal seks, sehingga anak-anak muda semakin tidak tahu dan akhirnya mencari tahu sendiri. Praktek yang salah adalah, mereka mencari pada sumber yang salah (yang sangat mudah didapat, internet contohnya) dengan cara menonton tontonan pornografi.
Akuilah, manusia sejak jaman dahulu kala, terutama kaum laki-lakinya, memang ngefans sama yang namanya pornografi.
Mau dilarang atau tidak, ini adalah industri yang marak di berbagai belahan dunia.
Praktek selanjutnya adalah, mengaplikasikan teori pornografi tersebut.
Ini sangat wajar dalam perjalanan hidup seorang manusia, bahwa pada suatu titik mereka membutuhkan pelepasan dalam pemenuhan kebutuhan seksual.
Beruntunglah para laki-laki yang gak jelek-jelek amat (atau baik, bermulut manis), mereka bisa mempraktekan teori bagaimana berhubungan seks kepada pacar/cewe yang mau sama mereka.
Juga untuk para lelaki yang not-so-good looking tapi punya uang, UUD- ujung ujungnya duit. Kelompok inilah yang mendorong majunya perekonomian di Indonesia juga. Terutama pada duit yang disumbangkan untuk transaksi jual beli seks.
Balik lagi ke penelitian, penularan dan penyebaran infeksi menular seksual terutama transmisi HIV dapat dicegah jika :
1. Semua klien/ laki-laki yang berhubungan seks dengan wanita (pekerja seks komersil, pacar, pacar sementara, TTM, bahkan istrinya) selalu memakai kondom
2. Semua wanita selalu memakai kondom jika berhubungan dengan laki-laki (pacar, pacar sementara, TTM, bahkan suaminya)
3. Semua pekerja seks (laki-laki, perempuan, maupun waria) selalu memakai kondom jika berhubungan dengan klien/pacar/pasangan seksualnya.
4. Semua pemakai narkoba jarum suntik selalu menggunakan jarum suntik steril, bukan bekas orang lain.
Ini adalah solusi yang sangat mudah, tapi sulit untuk diterapkan !
Salahsatu kesalahan besar, yang sering kita (juga pemerintah) buat adalah, dengan menutup lokalisasi tempat prostitusi/ pelacuran.
Ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah.
Pertama, para pekerja seks sebenarnya tetap ada, tapi mereka tidak terpusat (terpencar-pencar) dan lebih susah untuk ditarget oleh kelompok LSM yang ingin memberikan bantuan kesehatan/ dukungan sosial kepada mereka.
Kedua, para klien/ pelanggan laki-laki juga selalu ada, dan mereka lah yang lebih ‘bersalah’ dalam hal penyebaran virus, dengan berpindah-pindah tempat dari satu lokalisasi ke lokalisasi lain. Belum ada undang-undang/ peraturan yang menjaring mereka untuk ikut ‘bertanggung jawab’ mengatasi permasalahan ini.
Kenapa oh kenapa lagi-lagi pelacur yang disalahkan, ditangkap, diperas (padahal mereka jualan seks sering kali karena faktor ekonomi) sedangkan para pelanggan laki-laki bebas berkeliaran dan menularkan HIV kepada istri dan anak-anaknya ?
Kondom.
Adalah cara yang mudah dan sederhana yang bisa diterapkan oleh semua orang.
Mulai dari tukang beca, supir taksi, tukang ojek, anak SMP sampai kuliahan, PNS maupun pegawai swasta, dokter maupun insinyur, semua bisa diajarkan cara memakai kondom dan bisa (mampu) membeli kondom.
Sekarang waktunya kita bertanggung jawab atas diri sendiri.
Pemerintah sudah tidak mampu diandalkan karena kebanyakan urusan.
Stop epidemi HIV sampai disini.

Cara sederhana mencegah Kanker
Lima resep sederhana untuk mengurangi resiko terkena kanker :
1. Aktivitas fisik teratur atau ber-olahraga
2. Menjaga asupan cairan
3. Hindari merokok
4. Batasi mengkonsumsi daging (terutama daging merah)
5. Relaksasi , manajemen stress.
Baca info selengkapnya di http://…/5-simple-secrets-to-lower-your-risk-of-cancer/
HealthDev.net :: Ugandas success story in fighting HIV/AIDS may become History if ABC+ strategy is not revised
A : Abstinent
B : Be faithful
C : Use condom
Is it work ?
Shared via AddThis
VCT Toolkit: Establishing Services (2002) – FHI
FHI – VCT Toolkit: Establishing Services (2002)
Shared via AddThis
Komentar Terakhir