Posts filed under ‘visi’

Anak jalanan :: Salah siapa?

Kemarin saya dan ibu saya sedang berkendara menuju suatu tempat, lalu mobil kami berhenti tepat di depan perempatan karena lampu merah.
Muncul seorang ibu peminta-minta dan anaknya (usia sekitar 4-5 tahun) langsung ‘bekerja’ meminta sedekah kepada pengendara motor sekitar.
Ada yang memberi uang kecil, ada juga yang menolak mereka.

 

"anjal di Bandung"

 

Ini adalah sebuah pemandangan biasa, yang dapat ditemukan di banyak perempatan lampu merah di kota Bandung.
Terlebih di perempatan besar di bawah jalan layang dekat tempat Rumah Sakit tempat saya berdinas (perempatan Pasirkaliki – Pasteur) bisa dilihat di sana dalam ‘kondisi normal’ ada gerombolan pengemis anak-anak, kadang ada juga orang dewasa nya, bercengkerama dengan pengamen/ anak jalanan lain, bersama-sama mencari nafkah di perempatan lampu merah.

Beberapa puluh meter dari perempatan itu ada Rumah Sakit milik pemerintah, yang merupakan pusat rujukan layanan kesehatan terbesar di provinsi Jawa Barat.
Disitu jugalah tempat saya dahulu menempuh pendidikan kedokteran dan bertugas sebagai peneliti di bidang kesehatan dan sosial selama beberapa tahun.

Sering saya bertanya-tanya dalam hati, pada perempatan lampu merah di bawah jalan layang itu pastilah banyak dilewati dokter-dokter seperti saya, bahkan mungkin mereka dokter Spesialis yang lebih senior lebih lama lagi lalu lalang di lokasi tsb dan bisa melihat perubahannya seiring dengan bertambahnya waktu.

Apa yang dipikirkan oleh mereka?

Apakah mereka memikirkan, bahwa pertambahan jumlah anak jalanan, pengemis, dan pengamen itu merupakan sesuatu yang wajar karena bertambah juga kesulitan ekonomi?

Atau, mengganggap hal tersebut wajar, karena toh itulah cara mereka mencari nafkah. Dari jalanan dan sedekah orang-orang?

Ataukah ada juga seseorang yang menganggap hal tersebut sebenarnya tidak wajar dan mengusik rasa ketidakadilan, sama seperti yang saya rasakan.

Beberapa tahun terakhir Indonesia merasakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, bahkan termasuk terbesar di Asia Tenggara.
Jumlah orang kaya dan menengah bertambah banyak (bisa kita lihat mall dan pusat perbelanjaan di kota besar selalu ramai hampir setiap hari). Sayangnya ada juga sebagian saudara kita yang hidupnya tidak bertambah baik.

Memang banyak reportase yang mengatakan bahwa pengemis yang meminta-minta di jalan itu belum tentu miskin.
Mereka kadang bisa mendapat penghasilan yang lumayan dibandingkan penghasilan seorang buruh, bahkan cukup untuk membangun sebuah rumah di kampung tempat asal mereka.

Di luar polemik untung-tidaknya berprofesi sebagai seorang pengemis, saya hanya ingin memusatkan perhatian saya pada anak jalanan.

Orang tua mereka mungkin hanya beranggapan anak-anak ini adalah sebuah ‘aset’, dapat membantu mereka mencari nafkah di jalan.
Karena orang umumnya lebih merasa iba dan kasihan kepada anak kecil daripada pengemis dewasa, misalnya.

Selain itu, tanyakanlah pada anak-anak ini.
Jika mereka bisa memilih, apakah ini jenis kehidupan yang mereka inginkan?

Apakah ada seorang anak yang memilih untuk besar di tengah jalan, di antara kepulan asap knalpot, dibawah terik matahari dan dinginnya hujan, dibandingkan anak-anak lain yang seusianya menikmati masa-masa prasekolah bersama saudaranya di rumah, bermain dengan sepedanya, atau belajar dengan cara sewajarnya?

Di mana hati nurani dan rasa kepedihan kita selama ini, mengganggap anak-anak ini adalah salah orangtua mereka, salah pemerintah, atau siapapun juga, selain kita.

Bukankah ketidakpedulian kita juga yang menyebabkan mereka bertambah banyak di jalanan?

Sayangnya, banyak orang memberi sedekah/ uang receh kepada anak-anak ini- HANYA supaya mereka merasa lebih baik dengan perasaan mereka sendiri.

Cobalah berikan uang 1000 rupiah kepada anak Anda, setiap kali dia melakukan sesuatu yang tidak Anda sukai: jika anak Anda memukul temannya, berikan uang 1000.
Saya yakin tindakan Anda memberikan ‘reward’ tersebut akan semakin memperkuat motivasi anak Anda supaya memukul temannya lagi di lain kesempatan.

Sama seperti memberikan uang ke anak jalanan, mereka akan mengerti bahwa orang dewasa ‘mengasihani’ mereka dan juga akan memberikan mereka ‘reward’ atas tindakan meminta-minta ini.
Uang receh inilah yang menjadi alasan bagi mereka untuk selalu turun ke jalan.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan, jika kita mau, tapi memberi uang kecil kepada anak jalanan bukanlah salah satu solusi yang terbaik.
Bisa dibilang ini adalah solusi yang ‘sementara’ untuk mengobati rasa tidak enak di dalam hati kita- karena kita melihat bahwa kita lebih beruntung daripada mereka.

Sebagai seorang petugas kesehatan dan juga praktisi di bidang kesehatan masyarakat, visi saya ingin membangun sebuah program/solusi yang berkelanjutan dan bukan hanya sekedar ‘obat merah’ untuk mengobati penyakit sosial mereka.

Mereka butuh diberi kail dan diajarkan cara memancing, bukan hanya diberi ikan.

Anak-anak jalanan hanyalah ‘anak-anak’ yang juga harus merasakan senangnya bermain, butuh pendidikan, akses terhadap layanan kesehatan, dan kesempatan untuk maju sama seperti anak-anak lainnya.

Kita bisa memilih untuk terus menyalahkan pemerintah karena tidak becus mengurus (atau mengusir) mereka, atau juga melakukan tindakan konkrit untuk menolong mereka ke penghidupan yang lebih layak.

Karena saya seorang wanita dan juga calon ibu, yang suatu saat akan mempunyai anak sendiri- saya bisa merasakan kalau seorang ibu biasanya ingin yang terbaik untuk anaknya.

Rasanya tidak ada seorang ibu pun yang saya kenal, kalau dia bisa memilih, ingin anaknya hidupnya menderita.
Ibu saya bilang, kalau bisa kehidupan anaknya lebih baik daripada kehidupan dia yang susah di jaman selepas kemerdekaan RI.

Atas dasar rasa kepedulian seorang ibu itulah, saya ingin menawarkan program ‘penggratisan’ alat kontrasepsi/KB kepada mereka yang tidak mampu.

Uraian lebih mendetail tentang kenapa bisa gratis dan alasan program ini berfokus pada alat kontrasepsi bisa dilihat di tulisan saya selanjutnya.

Maret 22, 2012 at 1:59 pm Tinggalkan komentar

Public health itu seksi !

” Abis master ngapain ? Bakal praktek lagi ? ”

Itu dia pertanyaan orang-orang yang pengen tau gimana kelanjutannya setelah saya menyelesaikan program master selama 1 tahun.

Dengan latar belakang pendidikan dokter, tentu aja saya bisa kembali lagi ke negara asal (Indonesia) dan kembali praktek atau melanjutkan spesialisasi.

Tapi untuk saya, buat apa?
Kalau memang ingin terjun di bidang klinis, gak akan kemaren ‘ikut-ikutan’ sekolah master. Keukeuh lagi apply bidang yang paling banyak permasalahannya di Indonesia, yaitu health systems, management and policies = sistem, manajemen dan kebijakan kesehatan.

Menurut pendapat saya, sudah banyak dokter umum ataupun spesialis yang bertebaran di Indonesia. Istilah Sunda-nya mah ‘pabalatak‘.

Sayangnya proporsi tenaga kesehatan ini tidak merata, kebanyakan dokter dan tenaga kesehatan tentu aja lebih suka berdiam di kota-kota besar daripada di pedalaman atau kampung-kampung.

Kenapa? Jawabannya mudah. Karena dimana ada duit, disitu ada prakter dokter.

Mungkin itu jawaban yang terlalu vulgar.

Tapi biarlah, kan ini blog punya saya sendiri 🙂

Okeh, penjelasannya adalah : Karena sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia didominasi oleh sistem out-of-pocket.

Dalam sistem out-of-pocket (OOP) ini artinya biaya yang keluar untuk berobat kalo ke dokter, ditanggung oleh pasiennya sendiri.
Dampaknya sudah jelas, mereka yang punya duit akan cenderung bisa memilih dokter sendiri, memilih mau berobat dimana (ke Puskesmas, praktek dokter pribadi, atau langsung ke Rumah Sakit), juga bisa menentukan mau beli obat yang mahal atau menentukan mau periksa laboratorium dkk.

Pada intinya, kalo punya duit (dalam sistem OOP) artinya kita bisa mendapat pelayanan apapun.

Sebaliknya, kalau tidak punya uang?
Mereka yang tidak punya uang, atau yang penghasilannya terbatas (bahasa halusnya) harus memilih jalur alternatif. Yaitu berobat ke tempat yang lebih murah (biasanya dipilih Puskesmas), berobat ke dukun dulu (karena ke dokter mahal), atau mencoba mengobati sendiri. Inilah juga sebabnya kenapa banyak orang miskin suka telat berobat ke dokter (dan kalau sudah nyampe dokter biasanya kena marah lagi: ‘Pak, koq sakitnya nunggu parah gini baru ke dokter…’)

Itulah dia yang terjadi di banyak tempat di Indonesia.

Itulah juga sebabnya kenapa walaupun banyak dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia tambah banyak, tapi tidak mencerminkan bahwa rakyatnya akan semakin sehat.

Karena banyak tenaga kesehatan tidak menjamin rakyatnya sehat jika,

SISTEM KESEHATAN NYA tidak dirubah,

juga MANAJEMEN kesehatannya tidak berubah,
ditunjang oleh KEBIJAKAN kesehatan yang menopang kedua perubahan tersebut.

Mungkin untuk sebagian orang ini teori yang terlalu sulit untuk dimengerti.

Tapi, teruslah membaca, akan saya coba jelaskan konsep ini pada Anda.

Pertama-tama, kita ambil sistem kesehatan di negara maju.

Siapa yang disebut negara maju? Bukan hanya negara yang pendapatan perkapitanya besar, tapi juga negara yang indikator kesehatannya bagus.

Artinya umur harapan hidupnya tinggi, juga angka kematian ibu dan anak yang rendah. Ini semua mencerminkan bahwa negara itu makmur, sehingga kelompok populasi rentan (orangtua, wanita, anak-anak) bisa menikmati pertumbuhan ekonomi negaranya.

Saya ambil contoh dua negara dimana saya pernah merasakan tinggal dan juga nyicip sistem kesehatannya, yaitu Belanda dan Denmark.

Di kedua negara ini, karena sistem politiknya cenderung ke arah sosialis maka sistem kesehatan yang digunakan juga didominasi oleh Social Health Insurance atau asuransi kesehatan sosial.

Pada sistem ini, semua orang yang sudah mempunyai penghasilan (kelompok usia produktif) diwajibkan membayar premi asuransi kesehatan. Biasanya langsung dipotong dari pendapatan. Buat mereka, haram hukumnya gak punya asuransi kesehatan. Karena, biaya ke dokter di negara maju ini sangat mahal.
Jadi, semua orang diwajibkan untuk punya asuransi kesehatan.

Apakah ada orang-orang yang dibebaskan dari premi? Tentu saja ada.
Kelompok veteran (pensiunan), anak-anak, orang yang gak punya kerja, orang yang tidak mampu dst, dibebaskan dari premi tapi masih dijamin oleh asuransi kesehatan.

Prinsip dari Social Health Insurance ini adalah: ‘Mereka yang mampu bayar (kelompok usia produktif), menanggung beban kesehatan mereka yang tidak mampu bayar.’

Secara logika, ini adalah sistem kesehatan yang adil. Ya kan?

Bagaimana kesan saya selagi jadi pasien di negara tersebut?
Untungnya, selama di Belanda (3 bulan lebih) saya jarang sakit. Atau paling sakit ringan yang gak perlu ke dokter.

Tapi waktu di Denmark, pernah saya lumayan sakit (sakit koq bisa lumayan) sehingga merasa perlu ke dokter.

Caranya: di Denmark semua orang punya kartu tanda pengenal (semacam KTP) yang bisa dipakai untuk kartu berobat ke dokter. Kartu ini multifungsi, juga bisa dipake untuk buka tabungan di bank, atau pinjam buku ke perpustakaan, atau buka nomor kartu SIM telefon. Jadi nomor identitas yang ada di kartu ini identik dengan nama kita sendiri. Pada saat kita nelefon dokter untuk bikin janji – nomor identitas inilah yang harus disebutkan.
Owhya, dokter yang bisa mengobati juga hanya dokter tertentu yang tinggalnya dalam wilayah tempat tinggal kita. Dan harus didaftar sebelumnya. Jadi seperti dokter keluarga ASKES lah kurang lebih.

Selanjutnya, saya tinggal datang ke tempat praktek dokter tsb (dekat rumah, jalan kaki hanya 7 menit) sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Lalu menyebutkan nama saya dan nomor identitas. Juga menyertakan kartu saya tentunya. Nunggu sekitar 10 menit karena masih ada 1 pasien anak. Gak berapa lama dipanggil oleh dokternya.

Asik juga karena selain tempat praktek deket dan gak usah tunggu lama, dokternya tertarik untuk ngobrol-ngobrol. Juga dia menyarankan pemeriksaan penunjang dan tes darah. Dibuat lembar referal untuk tes darah ke laboratorium.

Semua konsultasi dan pemeriksaan penunjang tersebut GRATIS, alias gak bayar.
Kenapa bisa, karena sistem kesehatan sosialis itulah. Dipotongnya tentu dari pajak.

Pajaknya juga gak tanggung-tanggung. Sistem pajak yang dianut adalah Progresif (sama seperti di Indonesia, hanya di Denmark pengelolaannya jelas dan tanpa korupsi 🙂
Tapi tentu aja walaupun pajak yang dipotong bisa sebesar 40% dari pendapatan, tapi penduduk Denmark dan Belanda lebih bisa merasakan ‘hasil’ dari pajak daripada di Indonesia. Seengga-engga, saya pendatang sementara, sudah bisa merasakan hasil pajak mereka, yaitu fasilitas  dan layanan publik yang nyaman termasuk layanan kesehatan.

Itulah sekilas yang saya pelajari saat menempuh program master, dalam bidang international health (yang juga termasuk bidang public health).

Dan sampai saat ini saya yakin, Indonesia sebenernya gak (cuman) butuh lebih banyak dokter atau tenaga kesehatan saja, tapi juga praktisi di bidang ilmu kesehatan masyarakat.
Lihat saja di sekeliling kita, masih banyak pekerjaan rumah yang bisa ditangani pakar bidang ilmu kesehatan masyarakat/ public health : menangani sampah/ waste management, promosi gaya hidup sehat (kampanye anti rokok, pola makan sehat, anti junk food), penyediaan trotoar di jalan (supaya orang yang jalan gak ketabrak motor/ mobil!).
Bisa dibilang itu semua bukan pekerjaan yang sepele, bahkan kalau liat kondisi Indonesia sekarang, ini adalah sebuah tantangan bagi praktisi ilmu kesehatan masyarakat.

Buat saya, pekerjaan itu menarik kalau ada tantangannya. Dan itulah sebabnya public health sebenarnya ilmu yang sangat menarik dan applicable!
Juga saya harapkan akan lebih banyak orang (baik dengan latar belakang medis atau bukan) yang lebih mendalami bidang ini.

Seengga-engganya kalau Indonesia mau semakin maju dan sehat, harus lebih banyak praktisi di bidang ini. Bukan cuman dokter doang yang dibutuhkan.
Lagian, dokter juga manusia . . .

Oktober 19, 2011 at 7:52 pm 6 komentar

I have a dream

Kalau saya melihat anak-anak kecil (bahkan ada masih bayi) berkeliaran di jalan, mengemis bersama orangtuanya, saya suka bertanya-tanya…. Kenapa sih ada orang tua tega seperti itu ?

Jawabannya : Mungkin mereka tidak punya banyak pilihan. Jangan kan mengeluarkan biaya untuk memakai alat kontrasepsi / KB, untuk makan sehari-hari saja susah.

Lalu gimana dengan nasib anak-anak yang besar di jalanan seperti itu ? Menurut kamu gimana ?

Tapi daripada ngomongin kesalahan pemerintah, birokrasi, wakil rakyat / pejabat yang korup dst… saya punya impian, untuk suatu saat punya klinik yang bisa meng-gratiskan biaya berobat untuk mereka.

Atau setidaknya gratis untuk kontrasepsi atau KB deh ! Itu kan penting juga supaya setiap anak yang lahir bisa punya kehidupan yang berkualitas.

( Maaf ya kalo ada yang berbeda pendapat dengan saya, tapi ini bukan soal beda prinsip agama atau gimana…. saya cuman kesian kalau ada anak yang dilahirkan tapi gak keurus sama orang tuanya… )

Untuk saat ini, sambil ngumpulin modal bikin klinik, saya juga lagi belajar bikin website , rencana nanti isinya tentang informasi kesehatan, mungkin di internet sudah banyak website serupa tentang info kesehatan. Ada yang isinya bagus dan lengkap, ada yang membingungkan untuk dicerna orang non-medis, dan ada yang menyesatkan.

Tapi untuk sementara, saya juga nge-blog ( lebih gampang dan interaktif ) sambil membagikan info yang saya ketahui tentang kesehatan.

Untuk saat ini artikel yang saya upload baru tentang Alergi, Jerawat, Kulit dan Kecantikan, serta Tumor. Nantinya akan ditambah lagi ( kalau sudah dapet bahan yang lengkap, masih outsourcing nih… )

Buat teman-teman yang sudah masuk kesini, jangan lupa kasi masukannya yah !

Juni 11, 2008 at 4:10 am 3 komentar


Blog Stats

  • 159,028 hits

Klik tertinggi

  • Tidak ada

my twits