Alat kontrasepsi :: Perlukah ?

Maret 23, 2012 at 1:30 am 4 komentar

Dahulu pada jaman kakek-nenek kita mungkin sering terdengar ungkapan:

‘Banyak anak banyak rejeki’

Sebuah keluarga lazim memiliki jumlah anak lebih dari sepuluh, karena pada jaman selepas kemerdekaan Indonesia memang dibutuhkan jumlah penduduk yang banyak untuk pembangunan.

Tetapi di jaman sekarang, apakah ungkapan seperti itu masih relevan?

Sekarang sudah jarang ada sebuah keluarga yang memiliki jumlah anak lebih dari lima.

Banyak orang menyadari bahwa memiliki jumlah anak banyak berarti memiliki pengeluaran lebih banyak juga.

Seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan jumlah keluarga yang lebih kecil, maka meningkatlah juga kebutuhan pasangan akan alat kontrasepsi atau yang dikenal dengan alat KB.

contoh alat KB diafragma bagi perempuan

Banyak pendapat pro dan kontra seputar penggunaan alat kontrasepsi.

Bagi yang pro, mereka akan berpendapat kalau penggunaan alat kontrasepsi atau yang sering disebut alat KB merupakan salahsatu cara untuk  ‘mengendalikan’ alat reproduksi agar dapat membatasi jumlah anak dan juga memberi rentang periode kehamilan dari satu kelahiran dan kelahiran berikutnya.

Keuntungannya, jika jumlah anak dibatasi tentu diharapkan ada peningkatan kualitas hidup dari anak tersebut.
Umumnya, orangtua dengan jumlah anak yang sedikit tentu dapat lebih memfokuskan perhatiannya, memberikan akses pendidikan, kesehatan, dan penghidupan yang layak kepada anaknya dibandingkan dengan orangtua dengan jumlah anak yang banyak.

Tapi bila ukurannya hanya materi, tentulah kita bisa beranggapan bahwa mereka dari keluarga kaya boleh mempunyai jumlah anak banyak (selama mampu membiayai) sedangkan mereka yang dari keluarga miskin sebaiknya tidak mempunyai anak banyak.

Sayangnya dalam dunia nyata, yang terjadi sering kebalikannya.
Mereka yang berasal dari keluarga kaya, umumnya mampu menginvestasikan dana untuk pendidikan.
Dan anak-anak dari menempuh pendidikan lanjut (SMA, Sarjana, Magister) umumnya memilih untuk menikah dan mempunyai anak di usia yang lebih matang, dibanding mereka yang tidak menempuh pendidikan lanjut.

Sedangkan mereka yang berasal dari keluarga miskin, umumnya tidak mampu menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih lanjut.
Bagi anak perempuan dari golongan ekonomi lemah, sering pilihannya jika tidak bersekolah berarti menikah dan mempunyai anak di usia muda.
Pernikahan di usia muda pada masa reproduksi yang masih panjang juga berakibat jumlah anak yang semakin banyak, jika tidak dibatasi oleh penggunaan alat kontrasepsi.
Acapkali bagi mereka yang berasal dari golongan ekonomi kurang, penggunaan alat kontrasepsi tergolong mahal (hanya pil KB yang disubsidi oleh pemerintah di tingkat Puskesmas) terutama bila ingin menggunakan alat KB yang lebih mantap (IUD, sterilisasi).

alat KB IUD

kontap IUD bagi perempuan

Golongan yang kontra, biasanya beralasan bahwa penggunaan alat KB berarti melanggar harkat seorang wanita atau tidak alamiah karena mengganggu fungsi normal tubuh wanita yang sudah seharusnya bereproduksi.
Ada juga yang merasa penggunaan alat KB melewati batas wewenang kita sebagai manusia, karena bukankah Tuhan yang mengatur segala sesuatunya, termasuk rejeki dan juga anak yang dikandung?

Kebutuhan untuk alat kontrasepsi sebenernya lebih mendesak pada mereka yang berasal dari golongan menengah kebawah.
Karena dengan bertambahnya jumlah anak dalam keluarga, akan semakin berkurang juga sumber daya yang dibutuhkan oleh anak lainnya. Akibat jangka panjangnya tentu bisa kebodohan dan kemiskinan.

Pemerintah Indonesia pada jaman Orde Baru pernah giat menyerukan kampanye tentang Keluarga Berencana.
Sejalan dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi pada bangsa Indonesia waktu itu, tentunya banyak keluarga ingin menambah jumlah anak.

Sayang sekali kampanye tentang Keluarga Berencana atau ‘Dua anak cukup’ jarang terdengar lagi setelah masa reformasi di tahun 1998.
Padahal waktu itu Indonesia mengalami krisis ekonomi yang cukup membebani masyarakat. Apalagi jika tidak ada subsidi alat kontrasepsi maka umumnya sebuah keluarga tidak memprioritaskan hal tersebut.
Pastilah kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang diutamakan, dibandingkan penggunaan alat KB.

Bulan Februari kemarin presiden Amerika Serikat, Obama, membuat suatu keputusan yang dianggap kontroversial oleh sejumlah golongan agama (dan umumnya partai Republikan).
Seperti dilansir dalam laporan di blog VoA tanggal 11 Februari dengan judul ‘Warga Katholik Prihatin, Obama Ubah Aturan Keluarga Berencana’ , Presiden US tersebut menyatakan bahwa perusahaan asuransi kesehatan wajib langsung menawarkan layanan KB kepada perempuan.
Keputusan tersebut mendapat reaksi negatif dari sebagian pihak yang merasa keberatan karena dianggap ‘melanggar hak-hak amandemen pertama tentang praktek keagamaan secara bebas’. (blog Voa 11 Feb 2012)

Menurut pendapat saya, ini suatu gebrakan yang berani dan patut mendapat apresiasi.
Sebagai seorang pemimpin, Obama pasti mengetahui ada pro dan kontra atas keputusan yang dia buat.
Tapi mengingat US sekarang juga dalam fase krisis ekonomi (mereka masi berbenah setelah krisis besar tahun 2008) dan juga jumlah pengangguran yang bertambah- maka keputusan membatasi jumlah anak TERLEBIH layanan tersebut ditanggung oleh asuransi kesehatan merupakan keputusan yang sangat strategis.

Dari Amerika Serikat, kita bisa tarik pelajaran berikut; Institusi keagamaan  tadinya merasa ‘keberatan’ untuk menanggung pembiayaan terkait alat kontrasepsi, terlebih karena hal tersebut dianggap tidak sesuai dengan prinsip keagamaan yang dianut.
Tapi setelah melalui proses advokasi, pihak asuransi kesehatan (pemerintah) bersedia menanggung pembiayaan tersebut agar tercapai win-win solution.
Yang artinya, para wanita tidak kehilangan hak mereka atas layanan jika membutuhkan alat kontrasepsi DAN institusi keagamaan juga tidak merasa ‘dipaksa’ menuruti aturan tsb.

Untuk Indonesia, saya menunggu seorang pemimpin yang berani mengambil keputusan serupa🙂

Akses terhadap informasi dan layanan atas alat kontrasepsi/ KB perlu dan wajib dinikmati oleh semua wanita Indonesia yang membutuhkan, terlebih jika mereka tidak mampu.

Bagi mereka yang tidak mampu, pemerintah harus bisa menyediakan layanan gratis (untuk alat kontrasepsi), ini memungkinkan jika alat KB tercakup dalam Jamkesmas / Askeskin, atau skema pembiayaan apapun yang memungkinkan mereka bebas dari beban finansial.

Karena sesungguhnya, dengan menginvestasikan pada alat kontrasepsi/ KB bisa jadi salahsatu solusi untuk dapat memutuskan siklus kemiskinan pada masyarakat.

 

Sumber gambar (diunduh dari website sbb):

smashinglists.com | visualphotos.com

Entry filed under: KB atau kontrasepsi. Tags: , , , , , .

Anak jalanan :: Salah siapa? Perempuan (ibu) dengan HIV jangan takut hamil !

4 Komentar Add your own

  • 1. Alat Kontrasepsi, Perlukah? « Kontes Ngeblog VOA  |  April 2, 2012 pukul 4:20 am

    […] di https://klinikgratis.wordpress.com/2012/03/23/alat-kontrasepsi-perlukah/ Tags: alat kontrasepsi, katolik, Obama Posted in […]

    Balas
  • 2. hari  |  April 4, 2012 pukul 11:01 am

    alat kontrasepsi perlu atau tidak tergantung pada pemakai, hukum boleh aja tetapkan “tidak boleh” atau “boleh” tapi kemaslahatan keluarga yang menentukan pasangan masing-masing, toh dalam kenyataan hidup hubungan suami istri itu dapat di katakan: 1. untuk mendapatkan anak, 2 melakukan kewajiban, 3. rekreasi.

    bila telah mencukupkan 2 anak atau 3 anak dalam satu kleluarga sisanya waktu itu hubungan suami istri itu untuk apa?…… bila di permasalhannya pada maslah kepuasan tentunya hal itu relatif sekali.

    permasalahan atalt kontrasepsi bila di gunakan bila kita mau berfikir lebih luas itu hanyalah alat yang di sediakan untuk yang mau menggunakan. soal kesukaan dan kecocokan bisa pilih sendiri, cara penggunaan sesuai aturan dan bisa diantanya dengan caranya sendiri.

    Balas
    • 3. klinikgratis  |  April 4, 2012 pukul 2:01 pm

      @Hari :
      Betul bahwa penggunaan alat kontrasepsi dapat dipergunakan sesuai dengan kebutuhan pemakainya.

      Ada yang menggunakan alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan, atau untuk menjarangkan (memberi waktu/jarak) dari satu kehamilan ke kehamilan berikutnya, ada jg yang membutuhkan alat kontrasepsi karena jumlah anak yang dimiliki dirasa cukup.

      Idealnya, setiap orang (bukan hanya pasangan suami istri) berhak atas informasi dan akses tentang KB/alat kontrasepsi.

      Sayangnya di negara kita, masih banyak pasangan suami istri yang belum mendapat layanan KB yang dibutuhkan: entah karena mereka tidak tahu, tidak mampu (membayar), atau alasan lainnya.

      Balas
  • 4. citrajourney  |  Mei 18, 2012 pukul 9:28 pm

    menurut saya kontrasepsi itu penting..sekarang tergantung apa kebutuhannya..setiap orang punya kondisi tubuh yang berbeda2..misalnya kalau ada riwayat tumor payudara mungkin jangan pakai KB hormonal..kalau ada riwayat keputihan mungkin jangan pakai IUD….kalau ingin punya anak lagi mungkin jagan pakai metode sterile….smua ada baik buruknya…..tapi teteeeppp..sebaiknya pada wanita usia subur musti kenal tubuhnya dan mulai berpikir tentang kontrasepsi….:)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 149,682 hits

my twits


%d blogger menyukai ini: