Perempuan (ibu) dengan HIV jangan takut hamil !

April 20, 2012 at 6:01 pm 7 komentar

Begitu banyak rasa timbul dari dalam hati saya sebagai dokter dan praktisi kesehatan ketika membaca berita VoA yang berjudul “Pedoman Baru WHO untuk Cegah Penularan HIV dari Ibu ke Anak” tertanggal 20 April 2012 ini.

Gembira. Lega. Bersyukur. Dan masih banyak lagi.

Sebelum menjelaskan kenapa perasaan saya bisa demikian, mari saya ceritakan sedikit apa yang saya ketahui tentang penularan HIV dari ibu ke anaknya.

Saya sendiri bukanlah seseorang yang membutuhkan pengobatan ARV (antiretroviral) yang biasanya dikonsumsi secara teratur oleh orang yang terinfeksi HIV. Tapi sebagai seorang perempuan, saya prihatin banyak wanita yang tanpa disadari telah terinfeksi HIV ini; baik dari pasangan seksual (suami/ pacar), maupun dari jarum suntik yang tidak steril. Apapun penyebabnya, perempuan yang terinfeksi dengan HIV mempunyai kemungkinan untuk hamil (dan mempunyai anak).

Sedih sekali rasanya jika mengetahui ada bayi/ anak yang terlahir dengan status HIV positif dari ibu atau orangtuanya. Sedih karena sesungguhnya sudah ada banyak cara ditemukan untuk mencegah penularan HIV dari orangtua (ibu) ke bayinya sebelum kehamilan, selama kehamilan, saat melahirkan, maupun saat menyusui.

PMTCT atau Prevention Mother to Child Transmission (to HIV) adalah nama program yang umumnya dikenal oleh kalangan medis maupun masyarakat awam untuk mencegah penularan HIV dari ibu/orangtua ke anak.

Program ini meliputi banyak aspek, seperti contohnya bagaimana agar perempuan tidak tertular HIV dari pasangannya (penggunaan kondom), perencanaan kehamilan yang aman bagi perempuan dengan infeksi HIV, obat-obatan ARV apa saja yang aman dikonsumsi oleh ibu hamil (dengan HIV) untuk mencegah penularan pada janin, bagaimana proses melahirkan yang aman bagi bayi dan ibu, apakah bayi yang terlahir dari ibu dengan HIV aman jika diberi ASI dan lain sebagainya.

Begitu banyak penelitian di dalam maupun luar negri yang sudah menyediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas. Dan sesungguhnya buat saya, sangat tidak adil jika masih ada bayi yang terlahir dengan status HIV positif sementara pilihan untuk pencegahannya sudah banyak tersedia.

Walaupun demikian, tentu selalu ada sisi lain dari sebuah cerita.

Sama dengan ARV (antiretroviral) yang sejauh ini dinyatakan ampuh untuk mencegah replikasi/ bertambah banyaknya jumlah virus (HIV) dalam tubuh- yang mempunyai banyak efek samping, terutama pada penggunaan jangka panjang. ARV juga bukanlah obat yang murah. Kalau selama ini banyak orang dapat mengkonsumsi ARV biasanya itu karena ada subsidi (dari Depkes, maupun dari organisasi internasional spt contohnya MSF).

Penggunaan/ konsumsi ARV pun harus diawasi ketat oleh petugas kesehatan, karena efek sampingnya, terutama di awal-awal penggunaan. Risiko lebih besar dapat dialami jika pengguna mempunyai daya tahan tubuh yang sangat rendah (hitung marker sel CD4 <50/ mm3) atau mereka dengan alergi terhadap komponen obat ARV tsb.

Jika orang dengan HIV memenuhi syarat untuk mendapat pengobatan ARV, maka obat ARV (biasa kita sebut regimen, karena terdiri dari beberapa jenis obat)  harus dikonsumsi seumur hidup, karena bila ada kelalaian/ lupa minum obat dapat mengakibatkan mutasi/ perubahan struktur genetik dari virus (HIV) yang menyebabkan resistensi. Resistensi ini disebabkan karena virus mampu menciptakan bentuk yang lebih ‘kebal’ terhadap pengobatan ARV, yang tentunya berbahaya bagi tubuh penderita. Akibat kegagalan obat untuk menekan jumlah virus, maka infeksi oportunistik pun dapat kembali menyerang tubuh penderita bahkan bisa mengancam jiwa karena sifat virus hasil mutasi umumnya lebih ‘ganas’.

Pengobatan ARV bagi orang dengan HIV

sumber gambar :: arv-facts.com

Anehnya, dulu (sebelum tahun 2011) panduan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak menganjurkan agar perempuan dengan HIV yang mempunyai hitung sel CD4 lebih dari 350/mm3 untuk mengkonsumsi ARV hanya selama kehamilan (dan beberapa minggu setelah melahirkan) hanya demi upaya mencegah anaknya tertular HIV.  Segera setelah ibu selesai melahirkan, panduan yang lama mengatakan pemberian ARV dapat dihentikan (karena dengan CD4 ibu yang masih tinggi, dianggap daya tahan ibu masih baik dan tidak membutuhkan ARV).

Tapi dengan panduan lama seperti ini, tentunya sang ibu rentan akan resistensi/ kebal terhadap ARV jika suatu waktu dirinya sendiri membutuhkan pengobatan tsb bukan?

Apalagi bila kehamilan tersebut berlangsung beberapa kali (kehamilan pertama minum ARV, lalu stop, lalu saat hamil kedua minum ARV lagi, lalu stop lagi).

Potensi resistensi pada perempuan dengan HIV itulah yang membuat WHO/ Badan Kesehatan Dunia kemudian merevisi panduan pengobatan mereka. Panduan terbaru merekomendasikan bahwa perempuan hamil dengan HIV bisa melanjutkan ARV bahkan setelah melahirkan. Seperti yang dikatakan oleh dr. Ford dalam berita VoA :

“Rekomendasi baru ini sangat menganjurkan bahwa salah satu opsi yang tersedia bagi negara-negara adalah bahwa perempuan hamil yang positif agar mulai mengkonsumsi obat-obatan antiretroviral terlepas dari tingkat kekebalan mereka dan terus mengkonsumsi obat-obatan itu seumur hidup.”

Ini berita yang sangat baik, bukan hanya bagi pasien/ mereka yang terinfeksi HIV (terutama perempuan) tapi juga untuk praktisi kesehatan. Dokter yang menangani pasien HIV juga umumnya bingung dan sedih jika pasien menderita gagal pengobatan, resistensi obat. Belum juga besar biaya kesehatan yang harus dikeluarkan keluarga pasien atau pemerintah, jika pasien yang menderita resistensi/ gagal pengobatan- yang artinya harus beralih ke ongkos berobat yang lebih mahal lagi.

ibu hamil dengan HIV dapat mengikuti PMTCT

Terlebih bagi perempuan dengan HIV, dengan adanya rekomendasi baru ini mereka sangat diuntungkan karena pemberian ARV bukan semata untuk mencegah penularan pada bayi selama kehamilan, tapi juga untuk kesehatan dirinya sendiri.

Mungkin yang perlu diperhatikan kepada pelaksana kebijakan di tingkat operasional adalah, bagaimana menyediakan cakupan dan suplai pengobatan ARV yang konsisten, juga yang tak kalah pentingnya adalah kualitas layanan program PMTCT itu sendiri (pendekatan tenaga kesehatan kpd pasien, pemberian informasi/konseling dst).

Entry filed under: HIV-AIDS, KB atau kontrasepsi. Tags: , , , , , .

Alat kontrasepsi :: Perlukah ? Kejang dalam kehamilan :: hampir saja tak tertolong

7 Komentar Add your own

  • […] di https://klinikgratis.wordpress.com/2012/04/20/perempuan-hiv-jangan-takut-hamil/ Tags: HIV, ibu hamil, martiani dona oktavia, Perempuan, who Posted in […]

    Balas
  • 2. masbowo  |  Mei 17, 2012 pukul 5:59 pm

    Prihatin dengan realita yg terjadi. Semoga sukses ya. Mohon beri komentar pada tulisanku yang ini ya – Indonesia mendunia lewat Gamelan dan juga yang ini – Memanusiawikan Lingkungan Sungai Ciliwung dan Sekitarnya

    Balas
  • 3. lidia  |  Mei 13, 2013 pukul 10:37 pm

    Kalau pakai jampersal untuk ibu yang positif HIV untuk melahirkan itu apa aja yg didapat ϒά

    Balas
    • 4. klinikgratis  |  Mei 24, 2013 pukul 11:20 am

      Ketentuan tentang Jampersal dapat dilihat di website resminya Depkes di Juknis Jampersal 2012;
      http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/363

      Tidak dibedakan apakah ibu status HIV positif atau tidak selama memenuhi syarat ketentuan utk Jampersal maka boleh memakai skema tsb.

      Persyaratan yg harus dipenuhi adalah: 1) mempunyai kartu identitas/tanda pengenal 2) Tidak mempunyai asuransi kesehatan utk membiayai persalinan; jadi kalau sudah punya Jamkesmas, Jamkesda, Askeskin, Askes/Jamsostek, MAKA tidak berhak untuk menggunakan Jampersal lg.

      Apa saja yang di-cover juga dapat dilihat dalam website resmi Depkes tsb, (termasuk diantaranya cek up selama masa kehamilan).

      Yang penting untuk diingat adalah, Ibu yang melahirkan dengan Jampersal juga harus mengikuti program KB pasca persalinan.
      Ini sejalan dengan program KB bahwa untuk proses kelahiran yang sehat harus berjarak antara satu kehamilan hingga kehamilan berikutnya, dan juga jumlah kehamilan yang dibatasi akan berpengaruh untuk kualitas kehidupan bayi dan anak.

      Semoga bermanfaat : )

      Balas
      • 5. lidia  |  Mei 24, 2013 pukul 11:38 am

        Caranya gimana soalnya saya gak punya surat nikah apa bisa bikin jampersal ? Dan gimana Caranya…???

  • 6. ina  |  Mei 19, 2015 pukul 5:03 pm

    bagaimana dengan wanita yang tidak hiv dengan pasangan yang hiv untuk punya anak bagaimanakah caranya dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai hamil

    Balas
    • 7. klinikgratis  |  Mei 19, 2015 pukul 6:14 pm

      @ina:
      Wanita yang tidak HIV bisa mempunyai anak dengan pasangan yg HIV, asalkan pasangan dengan HIV positif tersebut sudah menerima pengobatan ARV yang teratur selama minimal 6 bulan berturut-turut (tanpa putus).
      Pengobatan ARV sesuai standar selama minimal 6 bulan dapat menekan jumlah virus (viral load) dalam tubuh maupun cairan sperma penderita HIV, sehingga mengurangi resiko menularkan kepada pasangan dan juga calon janin.

      Lebih baik lagi jika perencanaan kehamilan antara pasangan dibicarakan dengan dokter yang memberikan terapi ARV agar mendapat penjelasan tentang resiko yang ada.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 149,682 hits

my twits


%d blogger menyukai ini: