Calculate your HIV risk !

Ingin tau seberapa besar resiko kita terkena HIV ?

Resiko setiap orang terkena HIV berbeda, perempuan lebih rentan untuk terkena dibandingkan laki-laki karena biasanya perempuan menjadi pihak yang receptive (menerima).

Lelaki yang melakukan seks yang sifatnya receptive (anal sex, blow job) juga mempunyai resiko lebih besar dibanding lelaki yang melakukan seks bersifat insertif (memasukkan).

Jumlah banyaknya pasangan atau mempunyai pasangan seks yang sering melakukan hubungan seks berganti-ganti partner (terutama tanpa pengaman/kondom) tentu saja menambah resiko.

Tempat dimana kita tinggal (negara) juga menentukan prevalensi (banyaknya angka kejadian) kasus HIV, yang bisa menentukan besar kecilnya resiko terkena HIV.

Buat yang penasaran . . . . . . . . silakan mencoba !

http://www.aidsgame.com/quick_hiv_test.aspx

Iklan

April 26, 2010 at 12:40 pm Tinggalkan komentar

” Semua dapet untung kalau sehat”

Lokakarya Nasional HIV dan AIDS
Tanggal 7 Desember 2009 (hari pertama) : Intervensi Struktural

dr. Nafsiah Mboi (Sekretaris KPA Nasional)

– Perubahan situasi epidemiologi HIV di Indonesia : dimulai dari prevalensi HIV yang terkonsentrasi dalam high risk population ke semua kelompok populasi (termasuk diantara ibu rumah tangga dari kalangan low risk women, dan anak-anak).
– Perubahan transmisi penularan HIV : pemakaian alat/jarum suntik tidak steril (42%) dan hubungan seksual beresiko (heterseksual : 48% , homoseksual 3,8%) dengan catatan, tren penularan meningkat melalui hubungan seksual antara pelanggan PS dan pasangan tetapnya (istri).

– Intervensi masih belum efektif, dan karena terfokus pada kelompok tinggi resiko, maka banyak yang tidak tercakup dalam program penanggulangan HIV.
Contoh : Penggunaan kondom yg rendah di kalangan pelanggan menyebabkan penularan meluas ke kalangan pasangan seksual (istri, pacar).

– Pendekatan kepada kelompok resiko tingi (PSK,IDUs) masih sporadis dan eksklusif : tidak memberdayakan ODHA, dan tidak melibatkan masyarakat.
Yang dibutuhkan adalah : kemandirian pada komunitas.
➥ Perlunya analisis struktural intern komunitas : kenapa HIV bisa ada dalam suatu populasi dan penanggulangannya juga melihat latar belakang serta sesuai/applicable dengan situasi yang ada.

– Ketimpangan gender dalam masyarakat : Kenapa ada pelanggan, kenapa ada PSK ,ini sangat terkait dengan perspektif gender di masyarakat.
Buktinya adalah 7-9 juta pria masih menganggap wanita adalah barang yang bisa dibeli, dan tidak mau berperan dalam mencegah penularan ini (dengan memakai kondom).
DImana peranan agama dalam hal ini : apakah mengkondisikan wanita sebagai warga negara kelas 2 (boleh poligami), atau menaikkan harkat dan derajat wanita ?

RAN 2010-2014

Intervensi struktural, yang artinya
– Menciptakan lingkungan yang kondusif lewat :
kebijakan yang mendukung (supportive policies) , memberdayakan komunitas, pemakaian kondom , penghapusan stigma & diskriminasi.

Pencegahan HIV lewat jalur hubungan seksual beresiko
Pemakaian kondom 100% sudah dianggap tidak berhasil (respons masyarakat jadi paranoid, menganggap kondom = setuju seks bebas, identik dengan kelompok resiko tertentu)
Sekarang fokus pada : cegah infeksi baru.

Dengan perubahan perilaku, how ?
– mencegah orang menjadi PSK
– mencegah orang beli seks
– jika beli seks, mau pake kondom

Manajemen IMS
Ketersediaan supply (kondom, ART)

Perubahan sosial, ekonomi, politik

Pendekatan holistik, komprehensif, sensitif kultural

Semua pihak harus menyadari dimana peran-nya, dan bagaimana meng-efektifkan peran tersebut.
Contoh : LSM bisa empowering ke populasi kunci (bikin mereka jadi mandiri, bertanggung jawab terhadap kesehatannya sendiri, dan sadar bahwa populasi kunci bisa mengubah epidemi dengan mengubah perilaku mereka).

Mucikari, tukang ojek, dan orang yang terkait bisnis jual beli seks harus sadar mereka akan kehilangan mata pencaharian kalau PSK-nya sakit.
Depnaker bisa kehilangan angkatan kerja kalau banyak orang usia produktif terkena AIDS.
Intinya : “ Semua orang akan dapat untung kalau sehat“.

April 14, 2010 at 5:22 pm Tinggalkan komentar

Penghapusan prostitusi, mengurai masalah penularan penyakit menular seksual

Penghapusan prostitusi bukan jawabannya !

Saat ini prostitusi/pelacuran atau transaksi komersial seks masih dikaitkan dengan penyebaran berbagai penyakit/infeksi menular kelamin, termasuk juga untuk penularan HIV.

Maka tindakan pemerintah untuk menghapuskan prostitusi dinilai tepat.

Benarkan demikian ?

Jawabannya adalah : TIDAK !

Prostitusi sudah terjadi sejak jaman dahulu kala, dan akan selalu ada dalam peradaban manusia.
Munafik lah orang-orang (pemerintah) yang menyangka dengan menghapuskan prostitusi maka akan menyumbang kebaikan pada lingkungan sekitar.

Perlu diketahui, kenapa ada yang namanya prostitusi.

Pertama, manusia adalah makhluk hidup yang membutuhkan seks.

Ini benar adanya, oleh karena itu agama dan kepercayaan membuat suatu institusi yang disebut pernikahan. Ini yang dianggap sah (oleh norma-norma sosial di timur pada umumnya).

Tetapi, bagaimana dengan mereka yang belum menikah tetapi sudah memasuki usia pubertas?

Penelitian dan studi lapangan menyebutkan ada anak-anak muda kita (ya, di Indonesia, bukan di belahan dunia yang lain) memulai hubungan seks pertama dalam usia yang sangat dini. Antara usia SMP atau sekitar 14-15 tahun.
Pada masa ini tentulah belum ada (atau jarang) orangtua atau institusi sosial yang mengizinkan mereka untuk menikah dengan alasan ingin melampiaskan nafsu seksualnya.

Belum lagi pendidikan di sekolah dan di rumah yang tidak pernah (mengganggap tabu) membahas soal seks, sehingga anak-anak muda semakin tidak tahu dan akhirnya mencari tahu sendiri. Praktek yang salah adalah, mereka mencari pada sumber yang salah (yang sangat mudah didapat, internet contohnya) dengan cara menonton tontonan pornografi.

Akuilah, manusia sejak jaman dahulu kala, terutama kaum laki-lakinya, memang ngefans sama yang namanya pornografi.
Mau dilarang atau tidak, ini adalah industri yang marak di berbagai belahan dunia.

Praktek selanjutnya adalah, mengaplikasikan teori pornografi tersebut.
Ini sangat wajar dalam perjalanan hidup seorang manusia, bahwa pada suatu titik mereka membutuhkan pelepasan dalam pemenuhan kebutuhan seksual.

Beruntunglah para laki-laki yang gak jelek-jelek amat (atau baik, bermulut manis), mereka bisa mempraktekan teori bagaimana berhubungan seks kepada pacar/cewe yang mau sama mereka.
Juga untuk para lelaki yang not-so-good looking tapi punya uang, UUD- ujung ujungnya duit. Kelompok inilah yang mendorong majunya perekonomian di Indonesia juga. Terutama pada duit yang disumbangkan untuk transaksi jual beli seks.

Balik lagi ke penelitian, penularan dan penyebaran infeksi menular seksual terutama transmisi HIV dapat dicegah jika :

1. Semua klien/ laki-laki yang berhubungan seks dengan wanita (pekerja seks komersil, pacar, pacar sementara, TTM, bahkan istrinya) selalu memakai kondom
2. Semua wanita selalu memakai kondom jika berhubungan dengan laki-laki (pacar, pacar sementara, TTM, bahkan suaminya)
3. Semua pekerja seks (laki-laki, perempuan, maupun waria) selalu memakai kondom jika berhubungan dengan klien/pacar/pasangan seksualnya.
4. Semua pemakai narkoba jarum suntik selalu menggunakan jarum suntik steril, bukan bekas orang lain.

Ini adalah solusi yang sangat mudah, tapi sulit untuk diterapkan !

Salahsatu kesalahan besar, yang sering kita (juga pemerintah) buat adalah, dengan menutup lokalisasi tempat prostitusi/ pelacuran.

Ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Pertama, para pekerja seks sebenarnya tetap ada, tapi mereka tidak terpusat (terpencar-pencar) dan lebih susah untuk ditarget oleh kelompok LSM yang ingin memberikan bantuan kesehatan/ dukungan sosial kepada mereka.

Kedua, para klien/ pelanggan laki-laki juga selalu ada, dan mereka lah yang lebih ‘bersalah’ dalam hal penyebaran virus, dengan berpindah-pindah tempat dari satu lokalisasi ke lokalisasi lain. Belum ada undang-undang/ peraturan yang menjaring mereka untuk ikut ‘bertanggung jawab’ mengatasi permasalahan ini.

Kenapa oh kenapa lagi-lagi pelacur yang disalahkan, ditangkap, diperas (padahal mereka jualan seks sering kali karena faktor ekonomi) sedangkan para pelanggan laki-laki bebas berkeliaran dan menularkan HIV kepada istri dan anak-anaknya ?

Kondom.

Adalah cara yang mudah dan sederhana yang bisa diterapkan oleh semua orang.

Mulai dari tukang beca, supir taksi, tukang ojek, anak SMP sampai kuliahan, PNS maupun pegawai swasta, dokter maupun insinyur, semua bisa diajarkan cara memakai kondom dan bisa (mampu) membeli kondom.

Sekarang waktunya kita bertanggung jawab atas diri sendiri.
Pemerintah sudah tidak mampu diandalkan karena kebanyakan urusan.

Stop epidemi HIV sampai disini.

kampanye penggunaan kondom untuk seks lebih aman

November 16, 2009 at 10:24 am Tinggalkan komentar

Cara sederhana mencegah Kanker

Lima resep sederhana untuk mengurangi resiko terkena kanker :

1. Aktivitas fisik teratur atau ber-olahraga

2. Menjaga asupan cairan

3. Hindari merokok

4. Batasi mengkonsumsi daging (terutama daging merah)

5. Relaksasi , manajemen stress.

Baca info selengkapnya di http://…/5-simple-secrets-to-lower-your-risk-of-cancer/

Oktober 28, 2009 at 5:16 pm 1 komentar

HealthDev.net :: Ugandas success story in fighting HIV/AIDS may become History if ABC+ strategy is not revised

HealthDev.net :: Ugandas success story in fighting HIV/AIDS may become History if ABC+ strategy is not revised

A : Abstinent
B : Be faithful
C : Use condom

Is it work ?

Shared via AddThis

Oktober 14, 2009 at 2:52 pm Tinggalkan komentar

VCT Toolkit: Establishing Services (2002) – FHI

FHI – VCT Toolkit: Establishing Services (2002)

Shared via AddThis

Oktober 14, 2009 at 2:32 pm Tinggalkan komentar

Online VCT service launched in Indonesia :: HealthDev.net

HealthDev.net :: Online VCT service launched in Indonesia

Shared via AddThis

Oktober 14, 2009 at 2:18 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Blog Stats

  • 163,443 hits

Klik tertinggi

  • Tidak ada

my twits