HIV dan AIDS

Juni 12, 2008 at 7:55 pm 20 komentar

Bagaimana jika ada teman kamu yang menderita AIDS, apakah kamu masih mau berteman sama dia ?

Tahukah kamu apa gejala seseorang terkena HIV atau tidak ?

HIV adalah virus penyebab AIDS. HIV sendiri singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yang artinya virus yang menyerang sistem daya tahan tubuh / sistem imun. Akibatnya dalam jangka waktu lama, virus itu akan melemahkan pertahanan tubuh ( kan sistem imun-nya “dimakan” sama virus )

Karena sistem imun atau daya tahan tubuh berkurang, tubuh seseorang yang terkena HIV rentan terkena penyakit infeksi. Kumpulan penyakit atau infeksi yang umumnya menyerang orang dengan daya tahan tubuh rendah ( akibat HIV tadi ) disebut Acquired Immunodeficiency Syndrome , yang artinya Sindrom defisiensi imun yang didapat.

Tapi membutuhkan waktu yang lama ( tahunan biasanya, tergantung pengobatan yang dipakai juga ) untuk seseorang kelihatan punya gejala seperti AIDS. Jadi bisa aja kamu duduk sebelahan dengan orang yang punya HIV tapi dia kelihatan sehat-sehat saja.

Hanya, jangan takut kalo kamu duduk sebelahan atau salaman tangan, atau pinjem pakaian orang yang punya HIV. Penularan HIV cuman lewat darah, jarum suntik, mikrolesi (luka) yang bisa didapat saat misalnya melakukan hubungan seksual tanpa kondom, atau dari ibu ke anak saat kehamilan dan persalinan.

Kalau kamu harus mendapat transfusi darah, biasanya kantung darah yang kamu dapet dari PMI sudah discreening dulu, jadi kemungkinan tertular HIV gara-gara transfusi darah sebenarnya kecil.

Biasanya pemakai narkoba jarum suntik lebih rentan terkena HIV, karena mereka sering bergantian atau meminjam jarum suntik punya temannya. ( yang belum tentu bersih dari HIV ini ).
Sebenarnya virus ini mudah mati jika jarum suntik yang terinfeksi HIV segera dibersihkan dengan pemutih / chlorin ( pemutih / chlorin mengandung desinfektan, yang bisa membunuh virus ) , makanya petugas medis selalu merendam alat-alat bekas pakai operasi dengan chlorin ini, untuk mencegah penularan HIV.

Seseorang bisa saja terkena sudah terinfeksi HIV tapi hasil pemeriksaan tes darahnya negatif.
Koq bisa ???

Ada yang namanya Window Period, atau Periode Jendela – yang menggambarkan Masa Jeda antara seseorang mulai terinfeksi HIV sampai menunjukkan hasil pemeriksaan darah HIV positif.
Saat window period ini biarpun seseorang hasil pemeriksaan darahnya negatif tetapi sudah berpotensi untuk menularkan HIV ke orang lain. Lamanya window period ini bisa 1-3 bulan, bahkan 8 bulan.

Misalnya hari ini si A melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan si B (yang positif HIV), logikanya 0,1-1 % dari tiap hubungan seksual si A bisa terkena infeksi HIV juga. Anggaplah si A terinfeksi HIV ini juga, lalu 2 minggu kemudian, si A memeriksakan darahnya karena berpikir,
Jangan-jangan gue kena HIV nih … ?!

Hasil pemeriksaan darah menunjukkan HIV negatif ( padahal sesungguhnya si A sudah terinfeksi, tapi pemriksaan menunjukkan negatif karena antibodinya belum terdeteksi saat diperiksa ).
Saat si A sudah merasa ” aman “, dia melakukan hubungan seksual tanpa kondom lagi dengan si C dan si D ( otomatis dong si C dan si D juga beresiko untuk terkena HIV dan menularkan ke orang lain ).

Demikian seterusnya, sehingga terbentuk gambaran piramida ( atau disebut fenomena gunung es atau Iceberg phenomenon ).
Yang jadi puncaknya adalah orang-orang yang sudah positif terkena HIV, sementara dasar dari gunung es tersebut adalah orang-orang yang sudah terkena tapi hasil pemeriksaannya masih negatif dan berpotensi menularkan ke orang lain.
Perlu diingat, fenomena gunung es ini mau bilang kalo orang-orang yang ada di pucuk memang terlihat “sedikit” dan tidak berbahaya, tapi bagian dasarnya justru jumlahnya besar ( dan 5 tahun ke belakang mereka akan kelihatan tambah banyak jumlahnya ).

Dan gunung es juga yang bikin Titanic tenggelam . . . . . ( nyambung ga sih ? )

Untuk pencegahan penularan HIV sekarang lagi dikampanyekan untuk setia sama pasangan ( maksutnya pasangan seksual ya… ) kalo playboy tapi cuman lewat chattingan sih ga bikin tertular HIV juga kale…
Juga untuk memakai kondom kalo berhubungan seksual bukan dengan pasangan tetap ( walaupun kondom ga menjamin tidak ada transmisi HIV, tapi bisa memperkecil kemungkinan untuk tertular )

Untuk pemakai narkoba jarum suntik, bisa memakai jarum suntik sendiri ( gak dipakai bersamaan ) atau mencuci jarum suntik bekas pakai orang lain ( dengan pemutih / chlorin tadi ).

Penderita dengan HIV atau AIDS juga tidak perlu dijauhi, mereka manusia sama seperti kita, butuh perhatian , kasih sayang, pengertian, dan tentu saja bantuan kita . . . . *cieh* kaya PPKN nih😀

Baca juga tentang Penyalahgunaan Obat Terlarang, Free Sex dan HIV | Morphine and other Opioid Drugs

Entry filed under: alergi dan imunologi. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

cantik vs sinar matahari Dispepsia tidak selalu Gastritis

20 Komentar Add your own

  • 1. 4lifetransferfactorindonesia  |  Januari 19, 2009 pukul 3:12 am

    Mau berbagi Info nih…..

    Kenapa dalam satu keluarga yang pola hidup, pola makan dan lingkungannya sama, namun bisa ada yang mudah sakit sementara yang lain tidak? Ada yang mudah kena penyakit seperti flu atau demam dan cepat sembuh, tapi ada pula yang lama sembuhnya.

    Apakah penyebabnya ?….

    Kesehatan kita dipengaruhi langsung oleh sistem imun. Sistem imun adalah sistem pertahanan tubuh terhadap penyakit yang terdiri lebih dari triliyunan sel-sel NK ( Natural Killer), yang jumlah berat totalnya kira-kira 1 kg
    (2,2 pons).

    Apa Itu sel NK ?…

    Sel NK (Natural Killer) adalah sel imun yang bertanggung jawab mencari dan memusnahkan sel-sel “jahat” asing yang tidak dikenali oleh tubuh, termasuk sel kanker dan sel yang terinfeksi serangan virus, bakteri, dll. Jika seseorang memiliki aktivitas sel NK kurang dari 20% maka akan beresiko mudah terserang penyakit atau kurang kekebalan tubuh dalam upaya sembuh dari penyakit.

    Dari penelitian, Transfer Factor [ TF ] yang diekstrak dari kolostrum dengan teknologi Nano Factor mampu meningkatkan aktivitas sel NK sebanyak 103%. dan campuran TF dengan bahan-bahan alami lain yang berada pada 6 tingkat pertama daftar bahan awal induk mampu meningkatkan sel-sel NK menjadi 283%-437%. Perlu diingat, TF sendiri bukan obat, namun TF akan melatih / mendidik dan merangsang sistem kekebalan tubuh seseorang untuk melawan dan mengatasi penyakit tersebut.

    Blog : http://4lifetransferfactorindonesia.wordpress.com

    Ryan & Kenny

    Balas
  • 2. nia  |  Juni 24, 2009 pukul 7:52 pm

    sampai sekarang g tak ngerti gmn kita bisa tau pasangan kita terinfeksi HIV atau tidak..? sedangkan pacar gw mantan pemakai .gw jadi ngeri

    Balas
    • 3. klinikgratis  |  Juli 17, 2009 pukul 11:12 am

      halo nia,

      ada 1 cara untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai virus HIV dalam tubuhnya. yaitu dengan tes/ pemeriksaan pada darah.
      apalagi kalau mantan kamu pernah jadi pemakai narkoba jarum suntik, dia akan lebih beresiko untuk terkena infeksi HIV.
      dan kalau kamu berencana untuk menikah (atau sudah pernah melakukan hubungan seksual) dengan pacar kamu, saya sarankan untuk kedua belah pihak melakukan tes HIV.
      ini supaya kamu maupun pacar kamu mengetahui konsekuensi dari hubungan jangka panjang kalian dan kaitannya dengan HIV.

      untuk tes HIV sendiri saat ini banyak LSM yang menyediakan gratis, atau dengan harga yang terjangkau (35-50rb) di layanan kesehatan seperti klinik/Puskesmas, karena didanai oleh funding internasional.

      untuk pencegahan supaya tidak terkena HIV bila hasil tes kamu negatif, selalu gunakan kondom bila berhubungan seksual dengan pasangan (terutama kalau kamu tidak mengetahui status HIV pasangan kamu).

      Balas
  • 4. ADHEL  |  Agustus 6, 2010 pukul 2:41 pm

    aku punya pacar dia gak pemake.. tapi dia suka gonta ganti cewe untuk muasin hawa nafsunya,, tapi setelah dia pcran ma aku dia udah gak gitu lagi,, dia dah berubah, tapi aku takut kalo suatu saat nanti aku bisa tertular juga..

    Balas
  • 5. zahrifa  |  September 15, 2010 pukul 1:14 pm

    tolong bantu bisa kasih tau gak tempat dmna kita bisa tes darah? kira2 biayanya mahal gak untuk tes darah?

    Balas
  • 6. klinikgratis  |  September 15, 2010 pukul 2:29 pm

    Tempat dimana qta bisa melakukan tes darah biasanya di tiap layanan kesehatan setingkat Rumah Sakit daerah, atau Rumah sakit pusat rujukan, tergantung dimana tempat kamu tinggal.
    Contohnya kalau di Bandung, layanan ini bisa didapat di RS Hasan Sadikin, Boromeus, Imanuel, Ujung Berung, dan beberapa Puskesmas.

    Beberapa tempat tidak memungut bayaran utk pemeriksaan ini, alias gratis, di beberapa tempat biayanya mungkin berkisar antara 10-30 ribu.

    Untuk info lengkap dimana kamu bisa akses layanan seperti ini bisa liat juga ke website aids-ina.org > Layanan AIDS >> Tes HIV
    http://aids-ina.org/modules.php?name=Services&s_op=viewservicesteshiv&teshiv=%201%20&orderby=cidA

    Balas
  • 7. aditya  |  April 4, 2011 pukul 10:26 pm

    Maaf sekedar meluruskan saja,kalau windows periode HIV menurut standar Kemenkes RI,WHO dan CDC AS itu cuma 3 bulan (untuk orang yang kondisi badannya normal atau tidak sedang menjalani rawat inap),sedangkan untuk window periode HIV 6 bulan itu sangant amat langkah dan perbandingannya 0,1%
    demikian pendapat saya dan mohon maaf bila ada kesalahan hehehehehehehehehehehehehe………………………

    Balas
  • 8. Eddy Suantara  |  September 1, 2011 pukul 6:51 pm

    dimana ADA CLINIC GRATSIS UNTUK CEK hiv di bali?? mungkin dengan gratis, orang2 akan berminat untuk tes diri mereka, karena mungkin alasan mereka malas untuk cek karena biaya yang dianggap mahal.

    Balas
    • 9. klinikgratis  |  Oktober 30, 2011 pukul 7:05 pm

      Cek/ tes darah untuk mengetahui ada/tidaknya HIV di banyak tempat (Jawa dan juga Bali) sekarang sudah banyak yang gratis atau murah (15-35 rb rupiah). Biasanya tes HIV yang gratis karena disubsidi oleh pihak swasta/pemerintah.
      Di Bandung tempat tes HIV yang saya tahu GRATIS adalah di Puskesmas Salam dan Kopo, juga klinik Teratai- RS Hasan Sadikin.

      Informasi tentang tempat di Bali yang menyediakan tes gratis, saya kurang tahu, tapi bisa dicek di situs AIDSina-
      karena mereka punya banyak informasi dimana tempat tes di berbagai daerah di Indonesia.

      Balas
    • 10. Dian Apriliana  |  Januari 21, 2014 pukul 3:05 pm

      ada dibali di jl. raya sesetan, namanyan yayasan kerti praja, Disana gratis untuk cek nya. deket lapangan pegok. buka hari biasa jam set 9 pagi sampe jam 13..moga2 bisa bantu. Di RUD wongaya dan Badung juga ada, tapi gak tau biayanya…

      Balas
  • 11. indry  |  Januari 30, 2013 pukul 3:23 pm

    seandainya ada virus hiv apa kita bisa mendapakan obat secara GRATIS juga terimakasi infonya

    Balas
    • 12. klinikgratis  |  Oktober 30, 2013 pukul 8:51 pm

      @indry:
      Obat untuk HIV (antiretroviral) dapat diakses gratis di rumah sakit pemerintah yang sudah bekerja sama dengan Kementrian Kesehatan untuk pelayanan HIV.
      Untuk mendapatkan pengobatan ini, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, sbg contoh: persyaratan administrasi (surat kelengkapan, rujukan) dan persyaratan klinik (indikasi pemberian obat, pemeriksaan darah).
      Dapat ditanyakan kepada RS pusat rujukan di daerah masing-masing.

      Balas
  • 13. ahzul  |  April 17, 2013 pukul 5:24 am

    Salam hormat, saya mau tanya :

    1. Apabila sesorang melakukan tes darah dengan metode ELFA pada minggu ke-12 setelah aktivitas beresiko dan hasilnya “Non Reactive”, apakah itu sudah bisa memastikan bahwa orang tersebut bebas HIV?

    2. Apa sajakah faktor-faktor yang dapat menyebabkan tubuh seseorang lambat dalam mengembangkan antibodi hiv, sehingga tes menunjukkan hasil non reactive walaupun tes tersebut sudah dilakukan diatas bulan ke-3..??

    3. Misalkan seseorang melakukan aktivitas beresiko di negara afrika, lalu melakukan tes hiv di Indonesia, apakah tes tersebut hasilnya akurat?? dalam arti bahwa reagen yang digunakan dapat bereaksi terhadap antibodi dari seluruh varian hiv yang ada di dunia..??

    Terima kasih atas jawabannya…

    Balas
    • 14. klinikgratis  |  Oktober 30, 2013 pukul 8:48 pm

      @ahzul:
      1. Pada umumnya antibodi akan menunjukkan hasil ‘Reaktif’ sekitar 3 bulan (12 minggu) setelah orang tsb terpapar oleh HIV (jika memang ada transmisi, lewat pertukaran cairan tubuh).
      Walaupun ada sebagian kecil orang yang bisa menunjukkan hasil antobodi reaktif dalam periode kurang dari 6 bulan.
      Jadi untuk lebih yakin, silahkan dites ulang pada bulan ke-6.

      2. Banyak faktor yang dapat menyebabkan hasil antibodi tidak segera reaktif, sebagai contoh: faktor kekebalan (imunitas) atau genetik. Tapi pada umumnya hanya sebagian kecil orang yang ‘reaktif’ lambat.

      3. Tes HIV yang dilakukan di seluruh dunia (termasuk negara-negara di Afrika dan Indonesia) umumnya telah terstandarisasi dan mengikuti pedoman yang disarankan oleh WHO atau Kemenkes.
      Pedoman ini mencakup 3 rapid test dengan sensitifitas/ spesifitas yang berbeda,
      atau 2 rapid test (atau 1 rapid test dengan sensitifitas tinggi) diikuti dengan 1 tes dengan PCR/ ELISA.
      Jika mengikuti alur tes tsb maka mampu mendeteksi varian HIV dominan yang menginfeksi manusia.

      Balas
  • 15. lidia  |  Mei 13, 2013 pukul 10:46 pm

    Yg mau αкυ tanyain buat ibu2 penderita HIV tapi dalam kondisi hamil itu apakah mudah mendapat jampersal…???
    Apa aja yg di dapat dari jampersal buat ibu penderita HIV dan bayinya bila lahir nanti..????

    Balas
    • 16. klinikgratis  |  Oktober 30, 2013 pukul 8:38 pm

      @lidia:
      Sepengetahuan saya, hak ibu untuk mendapat Jampersal tidak dipengaruhi oleh status-nya sebagai penderita HIV atau tidak.
      Untuk ketentuan tentang Jampersal, tetap mengikuti ketentuan umum yang telah diatur oleh Kementrian Kesehatan.

      Silakan merujuk pada petunjuk teknis (Juknis) Jampersal, yang biasanya telah diketahui oleh para petugas kesehatan yang melayani Jampersal.
      http://buk.depkes.go.id/index.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=658&tmpl=component&format=raw&Itemid=58

      Bila ibu dengan HIV mempunyai indikasi untuk persalinan sesar, maka operasi dapat dilakukan di rumah sakit- setelah melewati tahapan rujukan berjenjang (dirujuk oleh Puskesmas/ bidan desa yang menentukan bahwa persalinan tsb memang harus dilakukan di RS).

      Balas
  • 17. elisiana  |  Oktober 29, 2013 pukul 12:31 am

    Anak sy hernia pas pgn dioperasi da tes darah kl mang trjangkit hiv bs kelihatan ga dihasil tes itu?atau tes darah hiv beda?

    Balas
    • 18. klinikgratis  |  Oktober 30, 2013 pukul 8:33 pm

      @elisiana:

      Biasanya tes HIV dilakukan jika pasien atau pihak keluarga/perwalian telah diberi informasi sebelumnya.
      Darah yang digunakan bisa saja spesimen yang diambil sebelum/ pada saat operasi.
      Tetapi bila memang ada indikasi medis untuk dilakukan pemeriksaan HIV, maka petugas kesehatan bisa juga melakukan tes HIV dengan informasi kepada pasien/ keluarga diberikan setelah hasil pemeriksaan keluar.

      Balas
  • 19. sinaga  |  Januari 3, 2014 pukul 7:24 pm

    1 . saya mau nanya klo melakukan sex 1x tmpa kondom dan hanya 2 mnit dan blom keluar sperma apakah ter indikasi terkena HIV …
    ( saya melakukan sex pada PSK yg munggkin sdah terkena HIV )

    2. apa ciri2 pada kelamin pria yg sudah terkena HIV

    3. di kepala penis saya ada bentol merah 1 sebesar titik ( seperti jerawat dan msih kecil bentol’nya ) dan juga tidak gagal atau sakit ( munggkin karna msih kecil kali ya )
    timbul setelah 1 bulan lebih saat saya melakuan sex tampa kondom dan saya baru 1x melalukan sex itupun hanya 2 mnit ( keperjakaan ku ilang di tmpat PSK )

    saya mohon untuk jawaban’nya
    trimakasih ..

    Balas
    • 20. klinikgratis  |  Februari 4, 2014 pukul 11:09 am

      Menjawab pertanyaan 1&2: pd umumnya kita gak tahu apakah seseorang terkena HIV atau tidak lewat tanda-tanda fisik.
      Seseorang hanya bisa diketahui terinfeksi HIV hanya setelah melakukan pemeriksaan darah, bisa dengan rapid test atau tes yg lebih detail (cth. ELISA).
      Resiko seseorang terkena HIV tergantung dr bbrp faktor cth. luka terbuka pd kulit dan pertukaran cairan tubuh dari org yg sudah HIV positif.
      3. Utk gejala infeksi menular seksual bisa diperiksakan ke dokter spesialis kulit dan kelamin sehingga bisa langsung diterapi.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 149,682 hits

my twits


%d blogger menyukai ini: