Siapa yang bisa terkena Infeksi Menular Seksual?

Juli 14, 2010 at 1:33 pm 1 komentar

Setelah sekian lama menghilang dan belum merespon beberapa pertanyaan yang masuk, akhirnya ada kesempatan untuk bikin tulisan lagi.

Kali ini akan lebih terfokus pada penyakit menular, khususnya infeksi menular lewat jalur hubungan seksual (IMS=infeksi menular seksual) termasuk infeksi yang disebabkan oleh HIV (Human Immunodefisiensi Virus).

Dulu, infeksi karena HIV identik dengan faktor resiko tertentu : punya pasangan seksual lebih dari satu/berganti-ganti, pemakai narkoba jarum suntik, sering mendapat transfusi darah.
Sekarang, sejalan dengan dinamika epidemiologi HIV di Indonesia, ibu-ibu rumah tangga yang setia dengan 1 suami juga bisa terkena infeksi HIV ini, dan pada akhirnya meningkatnya jumlah bayi/anak yang dengan HIV.

Kenapa perempuan ini bisa terkena infeksi HIV?

Jawaban paling masuk akal adalah, terkena dari suami mereka.
Seperti kita tahu, laki-laki (juga di Indo) adalah salahsatu konsumen/pembeli/pemakai dari transaksi jual beli seks (jual beli seks tidak harus selalu dengan duit; bisa dengan barang, kasih sayang, bahkan demi jaminan keamanan).

Siapa yang menjadi penjualnya?
Umumnya perempuan, walaupun bisa juga laki-laki atau waria.
Mereka yang ekonomi lemah (tidak punya uang), berpendidikan rendah (kurang berdaya) lebih rentan untuk menjadi penjual layanan seks ini.

Bentuk transaksi ini tidak harus selalu dilakukan dalam sebuah tempat khusus seperti rumah bordil (kasar amat istilahnya) atau istilah lebih halus, tempat lokalisasi. Tapi bisa juga transaksi ini dilakukan oleh anak SMP/SMU di sekolah, dengan nilai transaksi setara kelulusan misalnya, atau remaja yang berjiwa konsumtif dengan nilai transaksi sebuah hape baru.

Segala bentuk transaksi ini tidak bisa kita ingkari terjadi di kehidupan sehari-hari.
Mulai dari anak konglomerat hingga tetangga sebelah rumah mungkin melakukan bentuk transaksi seperti ini.

Masalahnya adalah, bagaimana kita bisa mengakui bahwa hal ini ada dan mempersiapkan (kalau tidak bisa melindungi) anak-anak, sepupu, saudara, keluarga kita, yang mungkin menjadi bagian, entah sebagai konsumen atau bahkan penyedia jasa dari layanan transaksi seks seperti ini.

Apa yang mesti diketahui oleh orang tentang HIV dan Infeksi Menular Seksual ?

1. HIV bisa mengenai semua orang, bahkan yang setia dengan pasangannya/ mempunyai 1 pasangan seksual.

Sudah terbukti kasus pada ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya bertambah banyak.
Hai para suami, kaum lelaki, jika memang ingin melakukan transaksi jual beli seks dengan orang lain selain pasangan Anda, pakailah kondom.
Ingat bukan hanya istri Anda yang akan tertular jika Anda positif, tapi juga Anda bisa melahirkan bayi yang HIV positif.

2. Perempuan lebih rentan, secara anatomis dan biologis, untuk terkena infeksi penyakit menular seksual dibanding pria.

Letak alat kelamin perempuan yang tersembunyi di dalam, membuat wanita sulit untuk dideteksi jika ada infeksi kelamin dibanding pria, karena alat kelamin mereka yang terletak diluar.
Inilah sebabnya pada saat wanita datang ke dokter dengan keluhan infeksi kelamin, biasanya keadaannya sudah lanjut dan lebih sulit untuk diobati.
Infeksi kelamin yang sudah lanjut bisa mengakibatkan komplikasi seperti keguguran (abortus) berulang, atau bahkan cacat pada bayi yang dilahirkan.

Sebaliknya pada pria, karena alat kelamin yang letaknya diluar sehingga jika ada infeksi lebih mudah untuk diketahui dan segera diobati.

Anjuran untuk para pria yang mempunyai infeksi kelamin/IMS, bawalah pasangan/istri Anda jika ingin mengobati.
Karena jika pasangan/istri Anda tidak diobati pada waktu yang bersamaan, selain infeksinya bisa menular kembali kepada Anda, juga istri/pasangan Anda bisa diobati pada tahap yang lebih awal.
Jangan lupa selalu gunakan kondom jika infeksi Anda/istri/pasangan Anda belum tuntas diobati, agar infeksinya tidak bertambah parah.

3. Minum antibiotik secara teratur tidak menyebabkan seseorang menjadi kebal terhadap penularan infeksi HIV/ penyakit kelamin.

Ada kepercayaan untuk meminum antibiotik sebelum memulai hubungan seksual dengan penjaja seks, agar tidak tertular penyakit (IMS,HIV).
Ini jelas-jelas anggapan yang salah, malah berbahaya, karena pemakaian antibiotik tanpa rekomendasi/anjuran dokter/petugas kesehatan bisa menyebabkan efek samping yang berbahaya.
Antibiotik yang diminum sembarangan juga bisa membuat tubuh resisten/tidak mempan terhadap pengobatan jika suatu saat terkena infeksi yang membutuhkan antibiotik.
Sejauh ini, hanya ada 1 metoda/cara yang dinilai efektif untuk mencegah penularan infeksi menular seksual, termasuk HIV, yaitu dengan pemakaian kondom secara benar.

Kondom untuk pria yang terbuat dari lateks biasanya menimbulkan alergi/rasa panas pada wanita, sehingga membuat wanita merasa tidak nyaman pada saat berhubungan seks.

Alternatifnya adalah penggunaan kondom khusus wanita.

Kondom khusus wanita bentuknya lebih besar karena dimasukkan ke dalam vagina (saluran kelamin wanita) dan karena lebih tipis dirasa nyaman juga oleh pria.
Keuntungan kondom wanita juga bisa dipakai ulang (kondom pria tidak dianjurkan untuk dipakai ulang, karena mudah robek) dan kondom wanita lebih lentur sehingga tidak mudah robek, bisa direkomendasikan juga untuk hubungan seks anal (misalnya pada kelompok LSL atau waria).

Harga kondom wanita memang lebih mahal daripada kondom pria, tetapi karena pemakaiannya yang bisa digunakan berulang kali, bisa dibilang lebih ekonomis.
Bahkan, disuatu tempat dimana penyedia jasa seks (PSK) sudah mempunyai jumlah klien yang tetap, cukup menyediakan jumlah kondom yang sesuai dengan jumlah klien. Satu kondom untuk satu klien, dicuci/dibersihkan, dan disimpan lagi untuk pemakaian berikutnya, untuk klien yang sama.

4. Saat ini pemerintah belum secara resmi punya program untuk mencegah ibu rumah tangga dan anak-anak tertular HIV.

Bisa dibilang demikian karena selama ini program pencegahan yang ada memang dibuat untuk kelompok dengan faktor resiko, yang artinya ibu rumah tangga dengan suami tetap dinilai tidak memiliki faktor resiko.
Padahal suami mereka bisa saja mempunyai pasangan lain, dan membuat ibu rumah tangga rentan terhadap infeksi HIV juga.
Kesadaran praktisi kesehatan di bidang ilmu kemasyarakatan (public health) juga masih terbatas dalam hal ini, akibatnya belum ada kebijakan yang secara langsung menyentuh kelompok perempuan resiko rendah dan anak-anak.
Data nasional bahkan menyebutkan cakupan intervensi di kedua kelompok ini sangat rendah dibandingkan kelompok lain dari kalangan pemakai narkoba suntik,  PSK/waria, serta kaum gay.

Bagaimana mengatasi hal ini ?

– Pemberian informasi : bahwa HIV bisa mengenai siapa saja, laki-laki, perempuan, menikah atau lajang, tua dan muda, asalkan mempunyai perilaku beresiko, termasuk mempunyai pasangan tetap (yang suka ‘jajan diluar’).

– Berkomunikasi dengan jujur terhadap pasangan :
masyarakat kita memang sulit untuk mengakui bahwa walaupun pelacuran dianggap haram, tapi praktiknya ada dimana-mana.
Akibatnya pemakaian kondom sulit untuk disosialisasikan, padahal kondom tidak identik dengan ‘melindungi’ jika berhubungan seks hanya dengan pelacur.

Kondom juga bisa dipakai oleh pasangan suami-istri yang tidak bisa memakai kontrasepsi hormon (pil/suntik) karena dalam masa pengobatan misalnya.
Kondom juga alat kontrasepsi yang mudah digunakan dan bebas dari efek samping seperti pada penggunaan hormon (jerawatan, berat badan bertambah, pusing, mens tidak teratur).
Selain itu juga murah, dan tidak membutuhkan bantuan dari petugas kesehatan untuk instalasinya🙂

Kondom harus disosialisasikan sebagai salahsatu alternatif, pada pasangan yang berhubungan seksual, baik menikah atau tidak, tetap atau sesekali, sebagai alat mencegah infeksi menular seksual (termasuk HIV) dan juga alat kontrasepsi, tanpa prejudice, dengan segala keuntungan dan kerugiannya.

Video tentang cara pemakaian kondom untuk wanita (Female Condom)

http://www.youtube.com/watch?v=mnyC_v0-DQ4

http://www.metacafe.com/watch/735859/how_to_use_female_condom/

Penulis adalah praktisi kesehatan, bekerja di unit penelitian kesehatan sub bagian HIV – tulisan terinspirasi sehabis mengikuti kursus kesehatan reproduksi di Royal KIT, Amsterdam.

Entry filed under: HIV-AIDS. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , .

Calculate your HIV risk ! Public health itu seksi !

1 Komentar Add your own

  • 1. Desi Marta Manihuruk  |  April 20, 2011 pukul 1:51 pm

    bagi yang sudah terkena IMS apa saja yang hrus dilakukan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 149,682 hits

my twits


%d blogger menyukai ini: