Posts tagged ‘HIV’

Siapa yang bisa terkena Infeksi Menular Seksual?

Setelah sekian lama menghilang dan belum merespon beberapa pertanyaan yang masuk, akhirnya ada kesempatan untuk bikin tulisan lagi.

Kali ini akan lebih terfokus pada penyakit menular, khususnya infeksi menular lewat jalur hubungan seksual (IMS=infeksi menular seksual) termasuk infeksi yang disebabkan oleh HIV (Human Immunodefisiensi Virus).

Dulu, infeksi karena HIV identik dengan faktor resiko tertentu : punya pasangan seksual lebih dari satu/berganti-ganti, pemakai narkoba jarum suntik, sering mendapat transfusi darah.
Sekarang, sejalan dengan dinamika epidemiologi HIV di Indonesia, ibu-ibu rumah tangga yang setia dengan 1 suami juga bisa terkena infeksi HIV ini, dan pada akhirnya meningkatnya jumlah bayi/anak yang dengan HIV.

Kenapa perempuan ini bisa terkena infeksi HIV?

Jawaban paling masuk akal adalah, terkena dari suami mereka.
Seperti kita tahu, laki-laki (juga di Indo) adalah salahsatu konsumen/pembeli/pemakai dari transaksi jual beli seks (jual beli seks tidak harus selalu dengan duit; bisa dengan barang, kasih sayang, bahkan demi jaminan keamanan).

Siapa yang menjadi penjualnya?
Umumnya perempuan, walaupun bisa juga laki-laki atau waria.
Mereka yang ekonomi lemah (tidak punya uang), berpendidikan rendah (kurang berdaya) lebih rentan untuk menjadi penjual layanan seks ini.

Bentuk transaksi ini tidak harus selalu dilakukan dalam sebuah tempat khusus seperti rumah bordil (kasar amat istilahnya) atau istilah lebih halus, tempat lokalisasi. Tapi bisa juga transaksi ini dilakukan oleh anak SMP/SMU di sekolah, dengan nilai transaksi setara kelulusan misalnya, atau remaja yang berjiwa konsumtif dengan nilai transaksi sebuah hape baru.

Segala bentuk transaksi ini tidak bisa kita ingkari terjadi di kehidupan sehari-hari.
Mulai dari anak konglomerat hingga tetangga sebelah rumah mungkin melakukan bentuk transaksi seperti ini.

Masalahnya adalah, bagaimana kita bisa mengakui bahwa hal ini ada dan mempersiapkan (kalau tidak bisa melindungi) anak-anak, sepupu, saudara, keluarga kita, yang mungkin menjadi bagian, entah sebagai konsumen atau bahkan penyedia jasa dari layanan transaksi seks seperti ini.

Apa yang mesti diketahui oleh orang tentang HIV dan Infeksi Menular Seksual ?

1. HIV bisa mengenai semua orang, bahkan yang setia dengan pasangannya/ mempunyai 1 pasangan seksual.

Sudah terbukti kasus pada ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya bertambah banyak.
Hai para suami, kaum lelaki, jika memang ingin melakukan transaksi jual beli seks dengan orang lain selain pasangan Anda, pakailah kondom.
Ingat bukan hanya istri Anda yang akan tertular jika Anda positif, tapi juga Anda bisa melahirkan bayi yang HIV positif.

2. Perempuan lebih rentan, secara anatomis dan biologis, untuk terkena infeksi penyakit menular seksual dibanding pria.

Letak alat kelamin perempuan yang tersembunyi di dalam, membuat wanita sulit untuk dideteksi jika ada infeksi kelamin dibanding pria, karena alat kelamin mereka yang terletak diluar.
Inilah sebabnya pada saat wanita datang ke dokter dengan keluhan infeksi kelamin, biasanya keadaannya sudah lanjut dan lebih sulit untuk diobati.
Infeksi kelamin yang sudah lanjut bisa mengakibatkan komplikasi seperti keguguran (abortus) berulang, atau bahkan cacat pada bayi yang dilahirkan.

Sebaliknya pada pria, karena alat kelamin yang letaknya diluar sehingga jika ada infeksi lebih mudah untuk diketahui dan segera diobati.

Anjuran untuk para pria yang mempunyai infeksi kelamin/IMS, bawalah pasangan/istri Anda jika ingin mengobati.
Karena jika pasangan/istri Anda tidak diobati pada waktu yang bersamaan, selain infeksinya bisa menular kembali kepada Anda, juga istri/pasangan Anda bisa diobati pada tahap yang lebih awal.
Jangan lupa selalu gunakan kondom jika infeksi Anda/istri/pasangan Anda belum tuntas diobati, agar infeksinya tidak bertambah parah.

3. Minum antibiotik secara teratur tidak menyebabkan seseorang menjadi kebal terhadap penularan infeksi HIV/ penyakit kelamin.

Ada kepercayaan untuk meminum antibiotik sebelum memulai hubungan seksual dengan penjaja seks, agar tidak tertular penyakit (IMS,HIV).
Ini jelas-jelas anggapan yang salah, malah berbahaya, karena pemakaian antibiotik tanpa rekomendasi/anjuran dokter/petugas kesehatan bisa menyebabkan efek samping yang berbahaya.
Antibiotik yang diminum sembarangan juga bisa membuat tubuh resisten/tidak mempan terhadap pengobatan jika suatu saat terkena infeksi yang membutuhkan antibiotik.
Sejauh ini, hanya ada 1 metoda/cara yang dinilai efektif untuk mencegah penularan infeksi menular seksual, termasuk HIV, yaitu dengan pemakaian kondom secara benar.

Kondom untuk pria yang terbuat dari lateks biasanya menimbulkan alergi/rasa panas pada wanita, sehingga membuat wanita merasa tidak nyaman pada saat berhubungan seks.

Alternatifnya adalah penggunaan kondom khusus wanita.

Kondom khusus wanita bentuknya lebih besar karena dimasukkan ke dalam vagina (saluran kelamin wanita) dan karena lebih tipis dirasa nyaman juga oleh pria.
Keuntungan kondom wanita juga bisa dipakai ulang (kondom pria tidak dianjurkan untuk dipakai ulang, karena mudah robek) dan kondom wanita lebih lentur sehingga tidak mudah robek, bisa direkomendasikan juga untuk hubungan seks anal (misalnya pada kelompok LSL atau waria).

Harga kondom wanita memang lebih mahal daripada kondom pria, tetapi karena pemakaiannya yang bisa digunakan berulang kali, bisa dibilang lebih ekonomis.
Bahkan, disuatu tempat dimana penyedia jasa seks (PSK) sudah mempunyai jumlah klien yang tetap, cukup menyediakan jumlah kondom yang sesuai dengan jumlah klien. Satu kondom untuk satu klien, dicuci/dibersihkan, dan disimpan lagi untuk pemakaian berikutnya, untuk klien yang sama.

4. Saat ini pemerintah belum secara resmi punya program untuk mencegah ibu rumah tangga dan anak-anak tertular HIV.

Bisa dibilang demikian karena selama ini program pencegahan yang ada memang dibuat untuk kelompok dengan faktor resiko, yang artinya ibu rumah tangga dengan suami tetap dinilai tidak memiliki faktor resiko.
Padahal suami mereka bisa saja mempunyai pasangan lain, dan membuat ibu rumah tangga rentan terhadap infeksi HIV juga.
Kesadaran praktisi kesehatan di bidang ilmu kemasyarakatan (public health) juga masih terbatas dalam hal ini, akibatnya belum ada kebijakan yang secara langsung menyentuh kelompok perempuan resiko rendah dan anak-anak.
Data nasional bahkan menyebutkan cakupan intervensi di kedua kelompok ini sangat rendah dibandingkan kelompok lain dari kalangan pemakai narkoba suntik,  PSK/waria, serta kaum gay.

Bagaimana mengatasi hal ini ?

– Pemberian informasi : bahwa HIV bisa mengenai siapa saja, laki-laki, perempuan, menikah atau lajang, tua dan muda, asalkan mempunyai perilaku beresiko, termasuk mempunyai pasangan tetap (yang suka ‘jajan diluar’).

– Berkomunikasi dengan jujur terhadap pasangan :
masyarakat kita memang sulit untuk mengakui bahwa walaupun pelacuran dianggap haram, tapi praktiknya ada dimana-mana.
Akibatnya pemakaian kondom sulit untuk disosialisasikan, padahal kondom tidak identik dengan ‘melindungi’ jika berhubungan seks hanya dengan pelacur.

Kondom juga bisa dipakai oleh pasangan suami-istri yang tidak bisa memakai kontrasepsi hormon (pil/suntik) karena dalam masa pengobatan misalnya.
Kondom juga alat kontrasepsi yang mudah digunakan dan bebas dari efek samping seperti pada penggunaan hormon (jerawatan, berat badan bertambah, pusing, mens tidak teratur).
Selain itu juga murah, dan tidak membutuhkan bantuan dari petugas kesehatan untuk instalasinya 🙂

Kondom harus disosialisasikan sebagai salahsatu alternatif, pada pasangan yang berhubungan seksual, baik menikah atau tidak, tetap atau sesekali, sebagai alat mencegah infeksi menular seksual (termasuk HIV) dan juga alat kontrasepsi, tanpa prejudice, dengan segala keuntungan dan kerugiannya.

Video tentang cara pemakaian kondom untuk wanita (Female Condom)

http://www.youtube.com/watch?v=mnyC_v0-DQ4

http://www.metacafe.com/watch/735859/how_to_use_female_condom/

Penulis adalah praktisi kesehatan, bekerja di unit penelitian kesehatan sub bagian HIV – tulisan terinspirasi sehabis mengikuti kursus kesehatan reproduksi di Royal KIT, Amsterdam.

Juli 14, 2010 at 1:33 pm 1 komentar

” Semua dapet untung kalau sehat”

Lokakarya Nasional HIV dan AIDS
Tanggal 7 Desember 2009 (hari pertama) : Intervensi Struktural

dr. Nafsiah Mboi (Sekretaris KPA Nasional)

– Perubahan situasi epidemiologi HIV di Indonesia : dimulai dari prevalensi HIV yang terkonsentrasi dalam high risk population ke semua kelompok populasi (termasuk diantara ibu rumah tangga dari kalangan low risk women, dan anak-anak).
– Perubahan transmisi penularan HIV : pemakaian alat/jarum suntik tidak steril (42%) dan hubungan seksual beresiko (heterseksual : 48% , homoseksual 3,8%) dengan catatan, tren penularan meningkat melalui hubungan seksual antara pelanggan PS dan pasangan tetapnya (istri).

– Intervensi masih belum efektif, dan karena terfokus pada kelompok tinggi resiko, maka banyak yang tidak tercakup dalam program penanggulangan HIV.
Contoh : Penggunaan kondom yg rendah di kalangan pelanggan menyebabkan penularan meluas ke kalangan pasangan seksual (istri, pacar).

– Pendekatan kepada kelompok resiko tingi (PSK,IDUs) masih sporadis dan eksklusif : tidak memberdayakan ODHA, dan tidak melibatkan masyarakat.
Yang dibutuhkan adalah : kemandirian pada komunitas.
➥ Perlunya analisis struktural intern komunitas : kenapa HIV bisa ada dalam suatu populasi dan penanggulangannya juga melihat latar belakang serta sesuai/applicable dengan situasi yang ada.

– Ketimpangan gender dalam masyarakat : Kenapa ada pelanggan, kenapa ada PSK ,ini sangat terkait dengan perspektif gender di masyarakat.
Buktinya adalah 7-9 juta pria masih menganggap wanita adalah barang yang bisa dibeli, dan tidak mau berperan dalam mencegah penularan ini (dengan memakai kondom).
DImana peranan agama dalam hal ini : apakah mengkondisikan wanita sebagai warga negara kelas 2 (boleh poligami), atau menaikkan harkat dan derajat wanita ?

RAN 2010-2014

Intervensi struktural, yang artinya
– Menciptakan lingkungan yang kondusif lewat :
kebijakan yang mendukung (supportive policies) , memberdayakan komunitas, pemakaian kondom , penghapusan stigma & diskriminasi.

Pencegahan HIV lewat jalur hubungan seksual beresiko
Pemakaian kondom 100% sudah dianggap tidak berhasil (respons masyarakat jadi paranoid, menganggap kondom = setuju seks bebas, identik dengan kelompok resiko tertentu)
Sekarang fokus pada : cegah infeksi baru.

Dengan perubahan perilaku, how ?
– mencegah orang menjadi PSK
– mencegah orang beli seks
– jika beli seks, mau pake kondom

Manajemen IMS
Ketersediaan supply (kondom, ART)

Perubahan sosial, ekonomi, politik

Pendekatan holistik, komprehensif, sensitif kultural

Semua pihak harus menyadari dimana peran-nya, dan bagaimana meng-efektifkan peran tersebut.
Contoh : LSM bisa empowering ke populasi kunci (bikin mereka jadi mandiri, bertanggung jawab terhadap kesehatannya sendiri, dan sadar bahwa populasi kunci bisa mengubah epidemi dengan mengubah perilaku mereka).

Mucikari, tukang ojek, dan orang yang terkait bisnis jual beli seks harus sadar mereka akan kehilangan mata pencaharian kalau PSK-nya sakit.
Depnaker bisa kehilangan angkatan kerja kalau banyak orang usia produktif terkena AIDS.
Intinya : “ Semua orang akan dapat untung kalau sehat“.

April 14, 2010 at 5:22 pm Tinggalkan komentar

Penghapusan prostitusi, mengurai masalah penularan penyakit menular seksual

Penghapusan prostitusi bukan jawabannya !

Saat ini prostitusi/pelacuran atau transaksi komersial seks masih dikaitkan dengan penyebaran berbagai penyakit/infeksi menular kelamin, termasuk juga untuk penularan HIV.

Maka tindakan pemerintah untuk menghapuskan prostitusi dinilai tepat.

Benarkan demikian ?

Jawabannya adalah : TIDAK !

Prostitusi sudah terjadi sejak jaman dahulu kala, dan akan selalu ada dalam peradaban manusia.
Munafik lah orang-orang (pemerintah) yang menyangka dengan menghapuskan prostitusi maka akan menyumbang kebaikan pada lingkungan sekitar.

Perlu diketahui, kenapa ada yang namanya prostitusi.

Pertama, manusia adalah makhluk hidup yang membutuhkan seks.

Ini benar adanya, oleh karena itu agama dan kepercayaan membuat suatu institusi yang disebut pernikahan. Ini yang dianggap sah (oleh norma-norma sosial di timur pada umumnya).

Tetapi, bagaimana dengan mereka yang belum menikah tetapi sudah memasuki usia pubertas?

Penelitian dan studi lapangan menyebutkan ada anak-anak muda kita (ya, di Indonesia, bukan di belahan dunia yang lain) memulai hubungan seks pertama dalam usia yang sangat dini. Antara usia SMP atau sekitar 14-15 tahun.
Pada masa ini tentulah belum ada (atau jarang) orangtua atau institusi sosial yang mengizinkan mereka untuk menikah dengan alasan ingin melampiaskan nafsu seksualnya.

Belum lagi pendidikan di sekolah dan di rumah yang tidak pernah (mengganggap tabu) membahas soal seks, sehingga anak-anak muda semakin tidak tahu dan akhirnya mencari tahu sendiri. Praktek yang salah adalah, mereka mencari pada sumber yang salah (yang sangat mudah didapat, internet contohnya) dengan cara menonton tontonan pornografi.

Akuilah, manusia sejak jaman dahulu kala, terutama kaum laki-lakinya, memang ngefans sama yang namanya pornografi.
Mau dilarang atau tidak, ini adalah industri yang marak di berbagai belahan dunia.

Praktek selanjutnya adalah, mengaplikasikan teori pornografi tersebut.
Ini sangat wajar dalam perjalanan hidup seorang manusia, bahwa pada suatu titik mereka membutuhkan pelepasan dalam pemenuhan kebutuhan seksual.

Beruntunglah para laki-laki yang gak jelek-jelek amat (atau baik, bermulut manis), mereka bisa mempraktekan teori bagaimana berhubungan seks kepada pacar/cewe yang mau sama mereka.
Juga untuk para lelaki yang not-so-good looking tapi punya uang, UUD- ujung ujungnya duit. Kelompok inilah yang mendorong majunya perekonomian di Indonesia juga. Terutama pada duit yang disumbangkan untuk transaksi jual beli seks.

Balik lagi ke penelitian, penularan dan penyebaran infeksi menular seksual terutama transmisi HIV dapat dicegah jika :

1. Semua klien/ laki-laki yang berhubungan seks dengan wanita (pekerja seks komersil, pacar, pacar sementara, TTM, bahkan istrinya) selalu memakai kondom
2. Semua wanita selalu memakai kondom jika berhubungan dengan laki-laki (pacar, pacar sementara, TTM, bahkan suaminya)
3. Semua pekerja seks (laki-laki, perempuan, maupun waria) selalu memakai kondom jika berhubungan dengan klien/pacar/pasangan seksualnya.
4. Semua pemakai narkoba jarum suntik selalu menggunakan jarum suntik steril, bukan bekas orang lain.

Ini adalah solusi yang sangat mudah, tapi sulit untuk diterapkan !

Salahsatu kesalahan besar, yang sering kita (juga pemerintah) buat adalah, dengan menutup lokalisasi tempat prostitusi/ pelacuran.

Ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Pertama, para pekerja seks sebenarnya tetap ada, tapi mereka tidak terpusat (terpencar-pencar) dan lebih susah untuk ditarget oleh kelompok LSM yang ingin memberikan bantuan kesehatan/ dukungan sosial kepada mereka.

Kedua, para klien/ pelanggan laki-laki juga selalu ada, dan mereka lah yang lebih ‘bersalah’ dalam hal penyebaran virus, dengan berpindah-pindah tempat dari satu lokalisasi ke lokalisasi lain. Belum ada undang-undang/ peraturan yang menjaring mereka untuk ikut ‘bertanggung jawab’ mengatasi permasalahan ini.

Kenapa oh kenapa lagi-lagi pelacur yang disalahkan, ditangkap, diperas (padahal mereka jualan seks sering kali karena faktor ekonomi) sedangkan para pelanggan laki-laki bebas berkeliaran dan menularkan HIV kepada istri dan anak-anaknya ?

Kondom.

Adalah cara yang mudah dan sederhana yang bisa diterapkan oleh semua orang.

Mulai dari tukang beca, supir taksi, tukang ojek, anak SMP sampai kuliahan, PNS maupun pegawai swasta, dokter maupun insinyur, semua bisa diajarkan cara memakai kondom dan bisa (mampu) membeli kondom.

Sekarang waktunya kita bertanggung jawab atas diri sendiri.
Pemerintah sudah tidak mampu diandalkan karena kebanyakan urusan.

Stop epidemi HIV sampai disini.

kampanye penggunaan kondom untuk seks lebih aman

November 16, 2009 at 10:24 am Tinggalkan komentar

Kondom : Cara berhubungan seks yang aman ?

Adakan cara berhubungan seks yang aman ?

Maksudnya aman disini adalah berhubungan seks tanpa resiko tertular penyakit infeksi menular seksual (IMS) atau penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin.

Penyakit / Infeksi menular seksual bisa ditularkan bila ada kontak dengan kulit atau cairan di daerah kelamin, contohnya pada penyakit infeksi kencing nanah atau bahkan infeksi HIV.
Orang dengan IMS pada alat kelamin akan lebih mudah tertular / menularkan HIV disebabkan adanya luka pada kulit, yang menyebabkan transmisi/ penularan virus secara langsung.

Bagaimana caranya agar bisa tetap berhubungan seks bila sedang terkena IMS ?

Jawabannya sederhana saja. KONDOM.
Kondom bisa digunakan oleh pihak laki-laki maupun perempuan.
Bingung ? Ya, betul. Saat ini sudah tersedia kondom untuk perempuan.

Banyak yang merasa pemakaian kondom identik dengan hubungan seks yang kurang enak dibanding tidak memakai kondom.
Tapi sesungguhnya pemakaian kondom mempunyai banyak keuntungan (selain mencegah kehamilan tentunya).
Kondom mencegah penularan infeksi menular seksual dan HIV.
Kondom juga berguna untuk mempertahankan ereksi pada laki-laki yang mudah ejakulasi (ejakulasi dini).
Dan saat ini kondom sudah tersedia dalam berbagai variasi serta bentuk, untuk meningkatkan kualitas hubungan seksual.

Terlebih jika akan berhubungan seksual dengan seseorang yang tidak kita kenal, atau orang yang bukan pasangan tetap kita.
(Ingat : Pasangan tetap kita pun bisa menularkan IMS atau HIV jika dia tidak setia terhadap kita !)

Juni 22, 2009 at 2:26 pm 2 komentar

Lagi tentang AIDS : kumpulan gejala imunodefisiensi (yang didapat)

Sehubungan dengan banyaknya tag yang dicari orang, maka lagi-lagi tulisan tentang AIDS saya buat. AIDS, singkatan yang dalam bahasa Inggris yang berarti Acquired Immunodeficiency Syndrome (=kumpulan gejala imunodefisiensi yang didapat.)

Maksud ‘didapat’ disini karena ada jenis penyakit/ kelainan imun yang diturunkan, misalnya pada kelainan genetik. Tetapi pada AIDS, kumpulan gejala klinis yang berhubungan dengan penurunan fungsi daya tahan tubuh/sistem imun, bukan karena kelainan bawaan. AIDS disebabkan karena manusia terinfeksi oleh HIV (=virus imunodefisiensi) melalui kontak darah atau cairan tubuh lain eg. air susu, sperma/cairan mani. HIV juga dapat ditemukan pada ludah, air mata, tapi belum terbukti adanya penularan dengan cara tersebut.

Siapa saja yang rentan dengan penularan HIV ini ?

Mereka yang termasuk kelompok resiko tinggi diantaranya : pekerja seksual komersil, transgender (waria) yang menjual jasa transaksi seksual, kelompok hetero/homoseksual yang sering berganti pasangan, para pengguna narkoba dengan jarum suntik yang dipakai bergantian. Pada intinya semua cara transmisi virus yang melibatkan kontaminasi darah.

HIV tidak dapat tertular jika kita berpelukan, berciuman pipi, melalui makanan, memakai gelas/piring bersama, menggunakan toilet duduk bersama, atau kontak lain yang tidak berhubungan dengan darah.

Bagaimana mencegah penularan HIV ?

Di negara maju dimana situasi budaya sangat permisif untuk memulai hubungan seksual sejak usia yang sangat dini, sedang dikampanye-kan untuk melakukan ABC.

Abstinence : artinya TIDAK melakukan hubungan seksual.

Be faithful : artinya SETIA terhadap pasangan (terutama pasangan seksual).

Condom : selalu menggunakan KONDOM jika melakukan hubungan seksual (jika bukan dengan pasangan/ jika berganti-ganti pasangan).

Sayangnya, masyarakat kita belum menyadari pentingnya pemakaian kondom.

Dari wawancara dengan para PSK (pekerja seks komersil) dan waria yang melayani transaksi seks, masih banyak pelanggan yang enggan untuk memakai kondom.

Padahal tujuan pemakaian kondom adalah untuk melindungi kedua belah pihak dari penyakit menular seksual dan HIV, tapi masih ada stigma di masyarakat kita bahwa pemakaian kondom mengurangi kenikmatan berhubungan seks.

Alangkah sempitnya pola pikir seperti itu, mengutamakan kenikmatan seks tapi mengorbankan diri untuk penyakit yang tidak dapat disembuhkan seumur hidup seperti AIDS.

Sekali orang terinfeksi HIV maka seumur hidupnya virus tersebut akan hidup dalam tubuh orang tersebut. Karena HIV tidak dapat disembuhkan seperti virus Influenza misalnya, maka suatu saat jika virus bertambah banyak (bermultiplikasi) maka dalam waktu sekian tahun akan muncul gejala penurunan daya tahan tubuh. Gejala tersebut yang disebut AIDS.

Contoh gejala yang sering muncul pada orang dengan AIDS adalah batuk yang tidak sembuh (berkaitan dengan TBC paru), kelainan kulit seperti jamur (candidiasis), atau ketombe pada kulit kepala, dan tumbuh jamur di kerongkongan/ esofagus yang mengakibatkan keluhan sulit menelan, penurunan berat badan drastis (wasting syndrome), dan diare terus menerus dalam waktu lama.

Sampai saat ini belum ada pengobatan untuk menyembuhkan HIV-AIDS. Telah ditemukan ARV (antiretroviral) sebagai pengobatan untuk mencegah bertambah banyaknya jumlah virus dalam tubuh.

Pada HIV-AIDS pencegahan adalah segala-galanya. Always wear protection (condom), don’t sharing needles, stay negative. Staying alive.

Februari 5, 2009 at 5:14 pm Tinggalkan komentar

HIV dan AIDS

Bagaimana jika ada teman kamu yang menderita AIDS, apakah kamu masih mau berteman sama dia ?

Tahukah kamu apa gejala seseorang terkena HIV atau tidak ?

HIV adalah virus penyebab AIDS. HIV sendiri singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yang artinya virus yang menyerang sistem daya tahan tubuh / sistem imun. Akibatnya dalam jangka waktu lama, virus itu akan melemahkan pertahanan tubuh ( kan sistem imun-nya “dimakan” sama virus )

Karena sistem imun atau daya tahan tubuh berkurang, tubuh seseorang yang terkena HIV rentan terkena penyakit infeksi. Kumpulan penyakit atau infeksi yang umumnya menyerang orang dengan daya tahan tubuh rendah ( akibat HIV tadi ) disebut Acquired Immunodeficiency Syndrome , yang artinya Sindrom defisiensi imun yang didapat.

Tapi membutuhkan waktu yang lama ( tahunan biasanya, tergantung pengobatan yang dipakai juga ) untuk seseorang kelihatan punya gejala seperti AIDS. Jadi bisa aja kamu duduk sebelahan dengan orang yang punya HIV tapi dia kelihatan sehat-sehat saja.

Hanya, jangan takut kalo kamu duduk sebelahan atau salaman tangan, atau pinjem pakaian orang yang punya HIV. Penularan HIV cuman lewat darah, jarum suntik, mikrolesi (luka) yang bisa didapat saat misalnya melakukan hubungan seksual tanpa kondom, atau dari ibu ke anak saat kehamilan dan persalinan.

Kalau kamu harus mendapat transfusi darah, biasanya kantung darah yang kamu dapet dari PMI sudah discreening dulu, jadi kemungkinan tertular HIV gara-gara transfusi darah sebenarnya kecil.

Biasanya pemakai narkoba jarum suntik lebih rentan terkena HIV, karena mereka sering bergantian atau meminjam jarum suntik punya temannya. ( yang belum tentu bersih dari HIV ini ).
Sebenarnya virus ini mudah mati jika jarum suntik yang terinfeksi HIV segera dibersihkan dengan pemutih / chlorin ( pemutih / chlorin mengandung desinfektan, yang bisa membunuh virus ) , makanya petugas medis selalu merendam alat-alat bekas pakai operasi dengan chlorin ini, untuk mencegah penularan HIV.

Seseorang bisa saja terkena sudah terinfeksi HIV tapi hasil pemeriksaan tes darahnya negatif.
Koq bisa ???

Ada yang namanya Window Period, atau Periode Jendela – yang menggambarkan Masa Jeda antara seseorang mulai terinfeksi HIV sampai menunjukkan hasil pemeriksaan darah HIV positif.
Saat window period ini biarpun seseorang hasil pemeriksaan darahnya negatif tetapi sudah berpotensi untuk menularkan HIV ke orang lain. Lamanya window period ini bisa 1-3 bulan, bahkan 8 bulan.

Misalnya hari ini si A melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan si B (yang positif HIV), logikanya 0,1-1 % dari tiap hubungan seksual si A bisa terkena infeksi HIV juga. Anggaplah si A terinfeksi HIV ini juga, lalu 2 minggu kemudian, si A memeriksakan darahnya karena berpikir,
Jangan-jangan gue kena HIV nih … ?!

Hasil pemeriksaan darah menunjukkan HIV negatif ( padahal sesungguhnya si A sudah terinfeksi, tapi pemriksaan menunjukkan negatif karena antibodinya belum terdeteksi saat diperiksa ).
Saat si A sudah merasa ” aman “, dia melakukan hubungan seksual tanpa kondom lagi dengan si C dan si D ( otomatis dong si C dan si D juga beresiko untuk terkena HIV dan menularkan ke orang lain ).

Demikian seterusnya, sehingga terbentuk gambaran piramida ( atau disebut fenomena gunung es atau Iceberg phenomenon ).
Yang jadi puncaknya adalah orang-orang yang sudah positif terkena HIV, sementara dasar dari gunung es tersebut adalah orang-orang yang sudah terkena tapi hasil pemeriksaannya masih negatif dan berpotensi menularkan ke orang lain.
Perlu diingat, fenomena gunung es ini mau bilang kalo orang-orang yang ada di pucuk memang terlihat “sedikit” dan tidak berbahaya, tapi bagian dasarnya justru jumlahnya besar ( dan 5 tahun ke belakang mereka akan kelihatan tambah banyak jumlahnya ).

Dan gunung es juga yang bikin Titanic tenggelam . . . . . ( nyambung ga sih ? )

Untuk pencegahan penularan HIV sekarang lagi dikampanyekan untuk setia sama pasangan ( maksutnya pasangan seksual ya… ) kalo playboy tapi cuman lewat chattingan sih ga bikin tertular HIV juga kale…
Juga untuk memakai kondom kalo berhubungan seksual bukan dengan pasangan tetap ( walaupun kondom ga menjamin tidak ada transmisi HIV, tapi bisa memperkecil kemungkinan untuk tertular )

Untuk pemakai narkoba jarum suntik, bisa memakai jarum suntik sendiri ( gak dipakai bersamaan ) atau mencuci jarum suntik bekas pakai orang lain ( dengan pemutih / chlorin tadi ).

Penderita dengan HIV atau AIDS juga tidak perlu dijauhi, mereka manusia sama seperti kita, butuh perhatian , kasih sayang, pengertian, dan tentu saja bantuan kita . . . . *cieh* kaya PPKN nih 😀

Baca juga tentang Penyalahgunaan Obat Terlarang, Free Sex dan HIV | Morphine and other Opioid Drugs

Juni 12, 2008 at 7:55 pm 20 komentar


Blog Stats

  • 159,028 hits

Klik tertinggi

  • Tidak ada

my twits

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.