Posts filed under ‘KB atau kontrasepsi’
Perempuan (ibu) dengan HIV jangan takut hamil !
pil ARV harus dikonsumsi seumur hidup bagi orang dengan H
Alat kontrasepsi :: Perlukah ?
Dahulu pada jaman kakek-nenek kita mungkin sering terdengar ungkapan:
‘Banyak anak banyak rejeki’
Sebuah keluarga lazim memiliki jumlah anak lebih dari sepuluh, karena pada jaman selepas kemerdekaan Indonesia memang dibutuhkan jumlah penduduk yang banyak untuk pembangunan.
Tetapi di jaman sekarang, apakah ungkapan seperti itu masih relevan?
Sekarang sudah jarang ada sebuah keluarga yang memiliki jumlah anak lebih dari lima.
Banyak orang menyadari bahwa memiliki jumlah anak banyak berarti memiliki pengeluaran lebih banyak juga.
Seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan jumlah keluarga yang lebih kecil, maka meningkatlah juga kebutuhan pasangan akan alat kontrasepsi atau yang dikenal dengan alat KB.
Banyak pendapat pro dan kontra seputar penggunaan alat kontrasepsi.
Bagi yang pro, mereka akan berpendapat kalau penggunaan alat kontrasepsi atau yang sering disebut alat KB merupakan salahsatu cara untuk ‘mengendalikan’ alat reproduksi agar dapat membatasi jumlah anak dan juga memberi rentang periode kehamilan dari satu kelahiran dan kelahiran berikutnya.
Keuntungannya, jika jumlah anak dibatasi tentu diharapkan ada peningkatan kualitas hidup dari anak tersebut.
Umumnya, orangtua dengan jumlah anak yang sedikit tentu dapat lebih memfokuskan perhatiannya, memberikan akses pendidikan, kesehatan, dan penghidupan yang layak kepada anaknya dibandingkan dengan orangtua dengan jumlah anak yang banyak.
Tapi bila ukurannya hanya materi, tentulah kita bisa beranggapan bahwa mereka dari keluarga kaya boleh mempunyai jumlah anak banyak (selama mampu membiayai) sedangkan mereka yang dari keluarga miskin sebaiknya tidak mempunyai anak banyak.
Sayangnya dalam dunia nyata, yang terjadi sering kebalikannya.
Mereka yang berasal dari keluarga kaya, umumnya mampu menginvestasikan dana untuk pendidikan.
Dan anak-anak dari menempuh pendidikan lanjut (SMA, Sarjana, Magister) umumnya memilih untuk menikah dan mempunyai anak di usia yang lebih matang, dibanding mereka yang tidak menempuh pendidikan lanjut.
Sedangkan mereka yang berasal dari keluarga miskin, umumnya tidak mampu menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih lanjut.
Bagi anak perempuan dari golongan ekonomi lemah, sering pilihannya jika tidak bersekolah berarti menikah dan mempunyai anak di usia muda.
Pernikahan di usia muda pada masa reproduksi yang masih panjang juga berakibat jumlah anak yang semakin banyak, jika tidak dibatasi oleh penggunaan alat kontrasepsi.
Acapkali bagi mereka yang berasal dari golongan ekonomi kurang, penggunaan alat kontrasepsi tergolong mahal (hanya pil KB yang disubsidi oleh pemerintah di tingkat Puskesmas) terutama bila ingin menggunakan alat KB yang lebih mantap (IUD, sterilisasi).
Golongan yang kontra, biasanya beralasan bahwa penggunaan alat KB berarti melanggar harkat seorang wanita atau tidak alamiah karena mengganggu fungsi normal tubuh wanita yang sudah seharusnya bereproduksi.
Ada juga yang merasa penggunaan alat KB melewati batas wewenang kita sebagai manusia, karena bukankah Tuhan yang mengatur segala sesuatunya, termasuk rejeki dan juga anak yang dikandung?
Kebutuhan untuk alat kontrasepsi sebenernya lebih mendesak pada mereka yang berasal dari golongan menengah kebawah.
Karena dengan bertambahnya jumlah anak dalam keluarga, akan semakin berkurang juga sumber daya yang dibutuhkan oleh anak lainnya. Akibat jangka panjangnya tentu bisa kebodohan dan kemiskinan.
Pemerintah Indonesia pada jaman Orde Baru pernah giat menyerukan kampanye tentang Keluarga Berencana.
Sejalan dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi pada bangsa Indonesia waktu itu, tentunya banyak keluarga ingin menambah jumlah anak.
Sayang sekali kampanye tentang Keluarga Berencana atau ‘Dua anak cukup’ jarang terdengar lagi setelah masa reformasi di tahun 1998.
Padahal waktu itu Indonesia mengalami krisis ekonomi yang cukup membebani masyarakat. Apalagi jika tidak ada subsidi alat kontrasepsi maka umumnya sebuah keluarga tidak memprioritaskan hal tersebut.
Pastilah kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang diutamakan, dibandingkan penggunaan alat KB.
Bulan Februari kemarin presiden Amerika Serikat, Obama, membuat suatu keputusan yang dianggap kontroversial oleh sejumlah golongan agama (dan umumnya partai Republikan).
Seperti dilansir dalam laporan di blog VoA tanggal 11 Februari dengan judul ‘Warga Katholik Prihatin, Obama Ubah Aturan Keluarga Berencana’ , Presiden US tersebut menyatakan bahwa perusahaan asuransi kesehatan wajib langsung menawarkan layanan KB kepada perempuan.
Keputusan tersebut mendapat reaksi negatif dari sebagian pihak yang merasa keberatan karena dianggap ‘melanggar hak-hak amandemen pertama tentang praktek keagamaan secara bebas’. (blog Voa 11 Feb 2012)
Menurut pendapat saya, ini suatu gebrakan yang berani dan patut mendapat apresiasi.
Sebagai seorang pemimpin, Obama pasti mengetahui ada pro dan kontra atas keputusan yang dia buat.
Tapi mengingat US sekarang juga dalam fase krisis ekonomi (mereka masi berbenah setelah krisis besar tahun 2008) dan juga jumlah pengangguran yang bertambah- maka keputusan membatasi jumlah anak TERLEBIH layanan tersebut ditanggung oleh asuransi kesehatan merupakan keputusan yang sangat strategis.
Dari Amerika Serikat, kita bisa tarik pelajaran berikut; Institusi keagamaan tadinya merasa ‘keberatan’ untuk menanggung pembiayaan terkait alat kontrasepsi, terlebih karena hal tersebut dianggap tidak sesuai dengan prinsip keagamaan yang dianut.
Tapi setelah melalui proses advokasi, pihak asuransi kesehatan (pemerintah) bersedia menanggung pembiayaan tersebut agar tercapai win-win solution.
Yang artinya, para wanita tidak kehilangan hak mereka atas layanan jika membutuhkan alat kontrasepsi DAN institusi keagamaan juga tidak merasa ‘dipaksa’ menuruti aturan tsb.
Untuk Indonesia, saya menunggu seorang pemimpin yang berani mengambil keputusan serupa
Akses terhadap informasi dan layanan atas alat kontrasepsi/ KB perlu dan wajib dinikmati oleh semua wanita Indonesia yang membutuhkan, terlebih jika mereka tidak mampu.
Bagi mereka yang tidak mampu, pemerintah harus bisa menyediakan layanan gratis (untuk alat kontrasepsi), ini memungkinkan jika alat KB tercakup dalam Jamkesmas / Askeskin, atau skema pembiayaan apapun yang memungkinkan mereka bebas dari beban finansial.
Karena sesungguhnya, dengan menginvestasikan pada alat kontrasepsi/ KB bisa jadi salahsatu solusi untuk dapat memutuskan siklus kemiskinan pada masyarakat.
Sumber gambar (diunduh dari website sbb):
smashinglists.com | visualphotos.com
Anak jalanan :: Salah siapa?
Kemarin saya dan ibu saya sedang berkendara menuju suatu tempat, lalu mobil kami berhenti tepat di depan perempatan karena lampu merah.
Muncul seorang ibu peminta-minta dan anaknya (usia sekitar 4-5 tahun) langsung ‘bekerja’ meminta sedekah kepada pengendara motor sekitar.
Ada yang memberi uang kecil, ada juga yang menolak mereka.
Ini adalah sebuah pemandangan biasa, yang dapat ditemukan di banyak perempatan lampu merah di kota Bandung.
Terlebih di perempatan besar di bawah jalan layang dekat tempat Rumah Sakit tempat saya berdinas (perempatan Pasirkaliki – Pasteur) bisa dilihat di sana dalam ‘kondisi normal’ ada gerombolan pengemis anak-anak, kadang ada juga orang dewasa nya, bercengkerama dengan pengamen/ anak jalanan lain, bersama-sama mencari nafkah di perempatan lampu merah.
Beberapa puluh meter dari perempatan itu ada Rumah Sakit milik pemerintah, yang merupakan pusat rujukan layanan kesehatan terbesar di provinsi Jawa Barat.
Disitu jugalah tempat saya dahulu menempuh pendidikan kedokteran dan bertugas sebagai peneliti di bidang kesehatan dan sosial selama beberapa tahun.
Sering saya bertanya-tanya dalam hati, pada perempatan lampu merah di bawah jalan layang itu pastilah banyak dilewati dokter-dokter seperti saya, bahkan mungkin mereka dokter Spesialis yang lebih senior lebih lama lagi lalu lalang di lokasi tsb dan bisa melihat perubahannya seiring dengan bertambahnya waktu.
Apa yang dipikirkan oleh mereka?
Apakah mereka memikirkan, bahwa pertambahan jumlah anak jalanan, pengemis, dan pengamen itu merupakan sesuatu yang wajar karena bertambah juga kesulitan ekonomi?
Atau, mengganggap hal tersebut wajar, karena toh itulah cara mereka mencari nafkah. Dari jalanan dan sedekah orang-orang?
Ataukah ada juga seseorang yang menganggap hal tersebut sebenarnya tidak wajar dan mengusik rasa ketidakadilan, sama seperti yang saya rasakan.
Beberapa tahun terakhir Indonesia merasakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, bahkan termasuk terbesar di Asia Tenggara.
Jumlah orang kaya dan menengah bertambah banyak (bisa kita lihat mall dan pusat perbelanjaan di kota besar selalu ramai hampir setiap hari). Sayangnya ada juga sebagian saudara kita yang hidupnya tidak bertambah baik.
Memang banyak reportase yang mengatakan bahwa pengemis yang meminta-minta di jalan itu belum tentu miskin.
Mereka kadang bisa mendapat penghasilan yang lumayan dibandingkan penghasilan seorang buruh, bahkan cukup untuk membangun sebuah rumah di kampung tempat asal mereka.
Di luar polemik untung-tidaknya berprofesi sebagai seorang pengemis, saya hanya ingin memusatkan perhatian saya pada anak jalanan.
Orang tua mereka mungkin hanya beranggapan anak-anak ini adalah sebuah ‘aset’, dapat membantu mereka mencari nafkah di jalan.
Karena orang umumnya lebih merasa iba dan kasihan kepada anak kecil daripada pengemis dewasa, misalnya.
Selain itu, tanyakanlah pada anak-anak ini.
Jika mereka bisa memilih, apakah ini jenis kehidupan yang mereka inginkan?
Apakah ada seorang anak yang memilih untuk besar di tengah jalan, di antara kepulan asap knalpot, dibawah terik matahari dan dinginnya hujan, dibandingkan anak-anak lain yang seusianya menikmati masa-masa prasekolah bersama saudaranya di rumah, bermain dengan sepedanya, atau belajar dengan cara sewajarnya?
Di mana hati nurani dan rasa kepedihan kita selama ini, mengganggap anak-anak ini adalah salah orangtua mereka, salah pemerintah, atau siapapun juga, selain kita.
Bukankah ketidakpedulian kita juga yang menyebabkan mereka bertambah banyak di jalanan?
Sayangnya, banyak orang memberi sedekah/ uang receh kepada anak-anak ini- HANYA supaya mereka merasa lebih baik dengan perasaan mereka sendiri.
Cobalah berikan uang 1000 rupiah kepada anak Anda, setiap kali dia melakukan sesuatu yang tidak Anda sukai: jika anak Anda memukul temannya, berikan uang 1000.
Saya yakin tindakan Anda memberikan ‘reward’ tersebut akan semakin memperkuat motivasi anak Anda supaya memukul temannya lagi di lain kesempatan.
Sama seperti memberikan uang ke anak jalanan, mereka akan mengerti bahwa orang dewasa ‘mengasihani’ mereka dan juga akan memberikan mereka ‘reward’ atas tindakan meminta-minta ini.
Uang receh inilah yang menjadi alasan bagi mereka untuk selalu turun ke jalan.
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan, jika kita mau, tapi memberi uang kecil kepada anak jalanan bukanlah salah satu solusi yang terbaik.
Bisa dibilang ini adalah solusi yang ‘sementara’ untuk mengobati rasa tidak enak di dalam hati kita- karena kita melihat bahwa kita lebih beruntung daripada mereka.
Sebagai seorang petugas kesehatan dan juga praktisi di bidang kesehatan masyarakat, visi saya ingin membangun sebuah program/solusi yang berkelanjutan dan bukan hanya sekedar ‘obat merah’ untuk mengobati penyakit sosial mereka.
Mereka butuh diberi kail dan diajarkan cara memancing, bukan hanya diberi ikan.
Anak-anak jalanan hanyalah ‘anak-anak’ yang juga harus merasakan senangnya bermain, butuh pendidikan, akses terhadap layanan kesehatan, dan kesempatan untuk maju sama seperti anak-anak lainnya.
Kita bisa memilih untuk terus menyalahkan pemerintah karena tidak becus mengurus (atau mengusir) mereka, atau juga melakukan tindakan konkrit untuk menolong mereka ke penghidupan yang lebih layak.
Karena saya seorang wanita dan juga calon ibu, yang suatu saat akan mempunyai anak sendiri- saya bisa merasakan kalau seorang ibu biasanya ingin yang terbaik untuk anaknya.
Rasanya tidak ada seorang ibu pun yang saya kenal, kalau dia bisa memilih, ingin anaknya hidupnya menderita.
Ibu saya bilang, kalau bisa kehidupan anaknya lebih baik daripada kehidupan dia yang susah di jaman selepas kemerdekaan RI.
Atas dasar rasa kepedulian seorang ibu itulah, saya ingin menawarkan program ‘penggratisan’ alat kontrasepsi/KB kepada mereka yang tidak mampu.
Uraian lebih mendetail tentang kenapa bisa gratis dan alasan program ini berfokus pada alat kontrasepsi bisa dilihat di tulisan saya selanjutnya.
Kondom : Cara berhubungan seks yang aman ?
Adakan cara berhubungan seks yang aman ?
Maksudnya aman disini adalah berhubungan seks tanpa resiko tertular penyakit infeksi menular seksual (IMS) atau penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin.
Penyakit / Infeksi menular seksual bisa ditularkan bila ada kontak dengan kulit atau cairan di daerah kelamin, contohnya pada penyakit infeksi kencing nanah atau bahkan infeksi HIV.
Orang dengan IMS pada alat kelamin akan lebih mudah tertular / menularkan HIV disebabkan adanya luka pada kulit, yang menyebabkan transmisi/ penularan virus secara langsung.
Bagaimana caranya agar bisa tetap berhubungan seks bila sedang terkena IMS ?
Jawabannya sederhana saja. KONDOM.
Kondom bisa digunakan oleh pihak laki-laki maupun perempuan.
Bingung ? Ya, betul. Saat ini sudah tersedia kondom untuk perempuan.
Banyak yang merasa pemakaian kondom identik dengan hubungan seks yang kurang enak dibanding tidak memakai kondom.
Tapi sesungguhnya pemakaian kondom mempunyai banyak keuntungan (selain mencegah kehamilan tentunya).
Kondom mencegah penularan infeksi menular seksual dan HIV.
Kondom juga berguna untuk mempertahankan ereksi pada laki-laki yang mudah ejakulasi (ejakulasi dini).
Dan saat ini kondom sudah tersedia dalam berbagai variasi serta bentuk, untuk meningkatkan kualitas hubungan seksual.
Terlebih jika akan berhubungan seksual dengan seseorang yang tidak kita kenal, atau orang yang bukan pasangan tetap kita.
(Ingat : Pasangan tetap kita pun bisa menularkan IMS atau HIV jika dia tidak setia terhadap kita !)




Komentar Terakhir